Jumat, 18 September 2015

FILSAFAT KONTEMPORER



BAB VII
FILSAFAT KONTEMPORER
A.     Pragmatisme
Kata pragmatisme berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari 2 kata yaitu “pragma” yang berarti
tindakan atau perbuatan, dan “isme” yang berarti aliran, ajaran atau paham. Dengan demikian, secara hakikat atau bahasa definisi dari pragmatisme adalah ajaran tentang konsep pemikiran berdasarkan perbuatan. Secara istilah, pragmatisme adalah aliran yang mengajarkan bahwa sesuatu yang benar apabila dibuktikan dengan perantara adanya akibat-akibat yang dirasakan bermanfaat secara praktis, (Tafsir, 2000: 211).
Dengan demikian, patokan pragmatisme adalah “manfaat bagi hidup praktis”. Pragmatisme berpandangan bahwa kriteria kebenaran sesuatu itu memiliki fungsi dan kegunaan bagi kehidupan manusia. Oleh sebab itu kebenaran sifatnya menjadi relatif tidak mutlak.
Menurut Syadali (2004:69) mengatakan bahwa pragmatism berarti hanya idea (pemikiran, pendapat, teori) yang dapat dipraktekan dengan benar dan berguna. Idea-idea yang hanya ada di dalam idea (seperti idea pada Plato, pengertian umum pada Socrates, definisi pada Aristoteles), juga kebimbangan terhadap realitas obyek indera (pada Descartes), semua itu nonsense bagi pragmatisme. Yang ada ialah apa yang real ada.
Pragmatisme merupakan aliran filsafat yang lahir di Amerika serikat sekitar tahun 1900. Tokoh-tokoh terpenting dari pragmatisme adalah William James (1842-1920) dan J. Dewey (1859-1914), pragmatisme mengajarkan bahwa ide-ide tidak benar atau salah melainkan bahwa ide-ide dijadikan benar oleh suatu tindakan tertentu, (surajiyo, 2005:163).
Harun Hadiwijono (1990:130) beliau mengatakan bahwa pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibat secara praktis yang mana pegangan aliran ini adalah berdasarkan logika. Sehingga dapat dikatakan bahwa aliran ini mau menerima segala sesuatu asalkan memiliki dampak akibat secara praktis dimana pengalaman pribadinya diterima asalkan bermanfaat, juga kebenaran yang mistis apabila memiliki dampak akibat praktis yang bermanfaat.
Pragmatisme dalam perkembangannya mengalami perbedaan kesimpulan walaupun berangkat dari gagasan asal yang sama. Walau bagaimanapun, ada tiga patokan yang disetujui aliran pragmatisme yaitu:
1.      Menolak segala intelektualisme
2.      Menolak absolutisme
3.      Meremehkan logika formal
              Filosuf yang terkenal sebagai tokoh filsafat pragmatisme adalah William James dan John Dewey. Berikut ini riwayat hidup, karya dan sumbangsihnya dari ajarannya:
1.      William James (1842-1910 M)
a.      Riwayat Hidup William James (1842-1910 M)
James lahir di New York City pada tahun 1842 M, akan tetapi menghabiskan masa kecilnya di Eropa. Ayahnya bernama Henry James, Sr. Beliau adalah seorang yang terkenal, berkebudayaan tinggi, pemikiran yang kreatif. Henry James, Sr. merupakan kepala rumah tangga yang memang menekankan kemajuan intelektual.
         Ia mengembangkan anak-anaknya secara luas sedapat-dapatnya dengan kebebasan dan individualisme, dan ia pun memberikan ide-idenya dan pengalamannya yang penting kepada anak-anaknya. Pendidikan dasarnya tidak seperti anak kebanyakan dan cenderung berganti-ganti, dikarenakan seringnya berpindah dari satu kota ke yang lain dan juga keinginan ayahnya agar dia lebih berkembang. Dia melewatkan masa pendidikannya disekolah umum  dan dari guru bimbingan pribadinya di Swiss, Prancis, Inggris dan Amerika. Sejak 1872 M hingga 1907 M, ia menuntut ilmu di Harvard. Pada mulanya James mempelajari fisiologi, kemudian beralih ke psikologi, dan terakhir filsafat (Tafsir, 2000: 215).
Selama tahun-tahun itu, ia hanya bisa membayangkan bagaimana kehidupan di sekolah sebenarnya. Setelah mendalami seni selama beberapa tahun, dia menyadari bahwa seni bukanlah bidangnya, dan pada tahun 1861 M, ia  masuk ke Lawrence Scientific School di Cambridge, yang memberikan karir di bidang sains dan koneksi dengan Universitas Harvard yang terus berlangsung seumur hidupnya, (Syadali, 2004: 69).
b.      Ajaran dan Karya Kefilsafatannya
Terkait dengan kebenaran, ada satu kalimat dari William James yang cukup padat dalam menggambarkannya, yaitu “truth happens to an idea. Berbeda dengan konsepsi tradisional mengenai kebenaran yang memandang kebenaran sebagai sesuatu yang pasti dan tetap, James meyakini bahwa kebenaran itu terjadi pada suatu gagasan. Dalam hal ini, kebenaran dipahami sebagai sesuatu yang dinamis. Maka kebenaran suatu gagasan tidaklah dikatakan sebagai “benar”, melainkan “menjadi benar”. Hal ini ditakar dari efek-efek praktis dan tindakan yang mengikuti gagasan tersebut, (Anonim, 2015).
Sebuah gagasan dinilai benar, jika mengarahkan manusia pada suksesnya suatu tindakan. Dengan kata lain, jika gagasan itu mengarahkan kita pada tindakan yang membawa manfaat. Bagi James, benar dan bermanfaat merupakan satu hal yang sama. Hal ini berkaitan dengan verifikasi yang dikenakan kepada suatu gagasan untuk menguji apakah gagasan itu benar atau tidak.
Terlihat pula bahwa bagi James, kemauan mendahului kebenaran, di mana kemauan itu disertai dengan kehendak untuk percaya. Hal ini dikarenakan kebenaran merupakan sesuatu yang diaktualisasikan oleh manusia kepada gagasan tertentu yang ia jadikan pedoman untuk tindakannya, (Tafsir, 2009: 173).
Willian James (1842-1910) adalah tokoh yang paling bertanggung jawab yang membuat pragmatism menjadi terkenal di dunia. Beliau juga adalah pionir dalam studi psikoligi modern sebagaimana juga dalam filsafat. Banyak sekali karya-karya yang Beliau buat, diantaranya yaitu:
1)      The Sentiment of Rationality (1879)
Karangan ini merupakan kombinasi antara filsafat dan psikologi.
2)      The Delimma of Determinism (1884)
Karangan ini memperlihatkan sensitivitasnya terhadap moral dan metafisika dan masalah kemauan manusia yang bebas, (Tafsir, 2013: 192).
3)      The Principles Of Psychology
Karangannya, Essay in Radical Empirism a Pluralistic Universe, dan karyanya, Some Problems of Philosophy, membicarakan pertumbuhan pandangannya tentang pragmatisme di dalam metafisika dan epistemologi. Pragmatisme, menurut pendapatnya, memberikan suatu jalan untuk membicarakan filsafat dengan melalui pemecahan lewat pengalaman indera. Akan tetapi, ini ternyata tidak mencukupi untuk James karena ia menyadari bahwa pragmatisme juga mampu menghubungkan satu dengan lainnya. Jawaban yang harus diberikan ialah mengenai pandangan yang pasti tentang alam semesta.
4)      Talks to Teacher
William James adalah seorang yang individualis. Didalam bukunya Talks to Teacher tidak terdapat pernyataan mengenai pendidikan sebagai fungsi sisa. Baginya pendidikan lebih cenderung kepada “organisasi yang ketertarikan mendalam terhadap tingkah laku dan ketertarikan akan kebiasaan dalam tingkah laku dan aksi yang menempatkan individual pada lingkungannya”.
 Teori perkembangan diartikannya sebagai susunan dasar dari pengalaman mental untuk bertahan hidup. Pemikirannya ini dipengaruhi oleh insting dan pengalamannya mempelajari psikologi hewan dan doktrin teori evolusi biologi (Surajiyo, 2007: 220).
5)      The will to be believe (1897)
Di dalam buku ini  menegaskan bahwa ada waktu-waktu ketika kita dihadapkan pada situasi di mana kita harus membuat keputusan tanpa memiliki semua bukti yang mungkin kita kuasai. Kehidupan tidak selalu memberi kita kemewahan menunggu hingga kita mendapatkan data yang meyakinkan, yang mendukung jalan tindakan yang benar.
Tujuan James adalah menggambarkan beberapa karakteristik dasar situasi semacam itu, dan mempertahankan pandangan bahwa arah tindakan rasional di lingkungan ini tidaklah berarti melarikan diri dari realitas dengan mengklaim perlunya keharusan menunggu bukti yang lebih obyektif sebelum memutuskan apa yang harus dilakukan.
6)      The Variety of Religious Experience (1902)
The Varieties of Religious Experiences memuat usaha besar James untuk menilai arti agama dalam kehidupan manusia. Seperti Nietzsche, James menilai agama dari segi kontribusinya pada keutamaan manusia, tetapi kesimpulan yang diambil James berbeda dari para filosof Jerman pada masanya. Perbedaan ini sebagian besar dikarenakan fakta bahwa ideal James lebih demokratis dibandingkan ideal Nietzsche.
James tentu memuji nilai individu-individu yang istimewa, tetapi ia memberi penekanan yang lebih jelas dan lebih kuat pada arti penting dan integritas setiap kehidupan manusia, perlunya manusia bekerja bersama guna menghasilkan yang terbaik, dan kebutuhan untuk menetapkan sebuah lingkungan di mana kebebasan personal dan kesatuan sosial melengkapi satu sama lain, (Tafsir, 2009: 169).
c.       Sumbangsih Ajaran Filsafat William James
 Teori James akan insting sangatlah bersifat individualis dan sangatlah kolot pada pelaksanaannya. Mengesampingkan pernyataannya mengenai perubahan insting, yang berlawanan dengan diskusinya pada “Iron Law of Habit/ Hukum Utama Kebiasaan” dan kepercayaannya akan tujuan dasar pendidikan sebagai pengembangan awal kebiasaan individual dan kelompok, dalam pembentukan masyarakat yang lebih sempurna.
Singkatnya, James menegaskan, dasar dari semua pendidikan adalah mengumpulkan semua insting asli yang dikenal oleh anak-anak, dan tujuan pendidikan adalah organisasi pengenalan kebiasaan sebagai bagian dari diri untuk menjadikan pribadi yang lebih baik. Sumbangan James yang paling berpengaruh terhadap metode pendidikan adalah hubungannya dengan susunan kebiasaan. James mengtakan: `
Hal yang paling utama, disemua tingkat pendidikan, adalah untuk membuat ketakutan kita menjadi sekutu bukan menjadi lawan. Untuk menemukan dan mengenali kebutuhan kita dan memenuhi kebutuhan dalam hidup. Untuk itu kita harus terbiasa, secepat mungkin, semampu kita, dan menjaga diri dari jalan yang memberi kerugian kepada kita, seperti kita menjaga diri dari penyakit. Semakin banyak dari hal itu didalam kehidupan sehari-hari yang dapat kita lakukan dengan terbiasa, semakin banyak kemampuan pemikiran kita yang dapat digunakan untuk hal yang penting lainnya.”, (Anonim, 2013).


2.      John Dewey (1859-1952 M)
a.      Riwayat Hidup John Dewey (1859-1952 M)
John Dewey adalah seorang filosof dari Amerika Serikat, yang termasuk Mazhab Pragmatisme. Selain sebagai filsuf, Dewey juga dikenal sebagai kritikus sosial dan pemikir dalam bidang pendidikan.
Dewey dilahirkan di Burlington pada tahun 1859 M. Setelah menyelesaikan studinya di Baltimore, ia menjadi guru besar dalam bidang filsafat dan kemudian dalam bidang pendidikan pada beberapa universitas.  Sepanjang karirnya, Dewey menghasilkan 40 buku dan lebih dari 700-an artikel. Dewey meninggal dunia pada tahun 1952 M, (Tafsir, 2009: 171).
      Dari tahun 1884-1888 M, Dewey mengajar pada Universitas Michigan dalam bidang filsafat. Tahun 1889 M ia pindah ke Universitas Minnesota. Akan tetapi pada akhir tahun yang sama, ia pindah ke Universitas Michigan dan menjadi kepala bidang filsafat. Tugas ini dijalankan sampai tahun 1894 M, ketika ia pindah ke Universitas Chicago yang membawa banyak pengaruh pada pandangan-pandangannya tentang pendidikan sekolah di kemudian hari. Ia menjabat sebagai pemimpin departemen filsafat dari tahun 1894-1904 di universitas ini. Ia kemudian mendirikan  Laboratory School yang kelak dikenal dengan nama The Dewey School.
       Di pusat penelitian ini ia pun memulai penelitiannya mengenai pendidikan di sekolah-sekolah dan mencoba menerapkan teori pendidikannya dalam praksis sekolah-sekolah. Hasilnya, ia meninggalkan pola dan proses pendidikan tradisional yang mengandalkan kemampuan mendengar dan menghafal. Sebagai ganti, ia menekankan pentingnya kreativitas dan keterlibatan murid dalam diskusi dan pemecahan masalah. Selama periode ini pula ia perlahan-lahan meninggalkan gaya pemikiran idealisme yang telah mempengaruhinya. Jadi selain menekuni pendidikan, ia juga menukuni bidang logika, psikologi dan etika, (Syadali, 2004: 76).
b.      Ajaran dan Karya Kefilsafatan
Menurut Dewey, tugas  filsafat adalah memberikan pengarahan bagi perbuatan nyata dalam kehidupan. Oleh karena itu, filsafat tidak boleh tenggelam dalam pemikiran-pemikiran metafisik belaka. Filsafat harus berpijak pada pengalaman, dan menyelidiki serta mengolah pengalaman tersebut secara kritis. Dengan demikian, filsafat dapat menyusun suatu sistem nilai atau norma, (Maksum, 2011: 180).
Cara-cara non-ilmiah (unscientific) membuat manusia tidak meruasa puas sehingga mereka menggunakan cara berpikir deduktif atau induktif. Kemudian orang mulai memadukan cara berpikir deduktif dan induktif, dimana perpaduan ini disebut dengan berpikir reflektif (reflective thinking).
Teori-teori awal yang dianggap mampu menjelaskan perilaku seseorang, difokuskan pada dua kemungkinan (1) perilaku diperoleh dari keturunan dalam bentuk insting-insting biologis, lalu dikenal dengan penjelasan nature dan (2) perilaku bukan diturunkan melainkan diperoleh dari hasil pengalaman selama kehidupan mereka dikenal dengan penjelasan nurture. Penjelasan nature dirumuskan oleh ilmuwan Inggris Charles Darwin pada abad kesembilan belas di mana dalam teorinya dikemukakan bahwa semua perilaku manusia merupakan serangkaian instink yang diperlukan agar bisa bertahan hidup.
 Namun banyak analis sosial yang tidak percaya bahwa instink merupakan sumber perilaku sosial. John Dewey mengatakan bahwa perilaku kita tidak sekedar muncul berdasarkan pengalaman masa lampau, tetapi juga secara terus menerus berubah atau diubah oleh lingkungan (Tafsir, 2009: 179).
Pandangan Dewey tentang manusia bertolak dari konsepnya tentang situasi kehidupan manusia itu sendiri. Manusia adalah makhluk sosial, sehingga segala perbuatannya, entah baik atau buruk, akan diberi penilaian oleh masyarakat. Akan tetapi di lain pihak, manusia adalah yang menciptakan nilai bagi dirinya sendiri secara alamiah.
Masyarakat di sekitar manusia dengan segala lembaganya, harus diorganisir dan dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat memberikan perkembangan semaksimal mungkin. Itu berarti, seorang pribadi yang hendak berkembang selain berkembang atas kemungkinan alamiahnya, perkembangannya juga turut didukung oleh masyrakat yang ada di sekitarnya, (Surajiyo, 2007: 221)
        Dewey juga berpandangan dalam (Syadali, 2004: 80)  bahwa setiap pribadi manusia memiliki struktur-struktur kodrati tertentu. Misalnya insting dasar yang dibawa oleh setiap manusia. Insting-insting dasar itu tidak bersifat statis atau sudah memiliki bentuk baku, melainkan sangat fleksibel. Fleksibilitasnya tampak ketika insting bereaksi terhadap kesekitaran.
Pokok pandangan Dewey di sini sebenarnya ialah bahwa secara kodrati struktur psikologis manusia atau kodrat manusia mengandung kemampuan-kemampuan tertentu. Kemampuan-kemampuan itu diaktualisasikan sesuai dengan kondisi sosial sekitar manusia. Bila seseorang berlaku yang sama terhadap kondisi sekitar, itu disebabkan karena “kebiasaan”, cara seseorang bersikap terhadap stimulus-stimulus tertentu. Kebiasaan ini dapat berubah sesuai dengan tuntutan kesekitarnya.
Dewey juga menjadi sangat terkenal karena pandangan-pandanganya tentang filsafat pendidikan. Pandangan yang dikemukakan banyak mempengaruhi perkembangan pendidikan modern di Amerika. Ketika ia pertama kali memulai eksperimennya di Universitas Chicago, ia telah mulai mengkritik tentang sisitem pendidikan tradisional yang bersifat determinasi. Sekarang ini, pandangannya tidak hanya digunakan di Amerika, tetapi juga di banyak negara lainnya di seluruh dunia.
Untuk memahami pemikiran John Dewey, kita harus berusaha untuk memahami titik-titik lemah yang ada dalam dunia pendidikan itu sendiri. Ia secara realistis mengkritik praktek pendidikan yang hanya menekankan pentingnya peranan guru dan mengesampingkan para siswa dalam sistem pendidikan. Penyiksaan fisik dan indoktrinasi dalam bentuk penerapan doktrin-doktrin menghilangkan kebebasan dalam pelaksanaan pendidikan. Tak lepas dari kritikannya juga yakni sistem kurikulum yang hanya “ditentukan dari atas” tanpa memperhatikan masukkan-masukkan dari bawah. Intinya bahwa, dalam dunia pendidikan harus diterapkan sistem yang demokratis, (Tafsir, 2009: 181).
Menurutnya,  proses belajar berarti menangkap makna dengan cara sederhana dari sebuah praktek, benda, proses atau peristiwa. Menangkap makna berarti mengetahui kegunaannya. Sesuatu yang mempunyai makna berarti memiliki fungsi sosial. Oleh karena itu pendidikan harus mampu mengantar kaum muda untuk memahami aktivitas yang mereka temukan dalam masyarakat. Semakin banyak aktivitas yang mereka pahami berarti semakin banyak pula makna yang mereka diperoleh. Dalam pengertian inilah ia mengatakan bahwa mutu pengetahuan mempengaruhi demokrasi, (Anonim, 2012).
Karya- karya John Dewey banyak mempengaruhi corak berpikir Amerika. Pengaruh ini juga banyak berasal dari buku-buku atau karya-karya yang dihasilkannya. Bukunya yang pertama yakni Psychology yang diterbitkan dalam tahun 1891. Dalam tahun 1891, bukunya Outlines of a Critica Theory of Etics diterbitkan. Tiga tahun kemudian, 1894, terbit lagi The Study Of Etics dan lain- lain. Dalam buku Dewey  yang berjudul “Democracy and Education”  yaitu tentang  pendidikan, dimana mengungkapkan bahwa:
1)      Filsafat pendidikan adalah  bukan suatu pola pemikiran yang jadi dan disiapkan sebelumnya dan datangnya dari luar kedalam suatu sistem  praktik,pelaksanaan yang amat sangat berbeda asal usulnya maupun tujuanya.
2)      Filsafat pendidikan  adalah suatu  perumusan sacara jelas dan tegas eksplisit  tentang problema-problema pembentukan pola kehidupan mental dan moral dalam kaitanya  menghadapi kesulitan yang timbul dalam kehidupan.
3)      Defenisi yang paling tepat adalah teori pendidikan  dalam pengertian yang umum dan teoritis, (Syadali, 2004: 100).
c.       Sumbangan Ajaran Filsafat John Dewey
Mungkin kontribusi Dewey bagi perkembangan kebudayaan Amerika yang paling bessar adalah formulasinya secara batu tentang filsafat. Baginya, filsafat harus terarah pada masalah-masalah sosial dalam setiap waktu dan berusaha untuk diklarifikasikan dengan masalah filsafat politik dan ekonomi.  Dalam bahasa lain, tradisi epistemologi dan problem metaisika juga patut diperhitungkan dalam tempat yang kedua. Semuanya berpengaruh pada atau membentuk konsep filsafat social.
Berkaitan dengan semuanya, John Dewey percaya bahwa filsafat membawa pengaruh pada perkembangan pendidikan. Sebagai akaibatnya pendidikan telah memberikan  pertimbangan argumen. Liberalisme Dewey telah mempengaruhi bidang-bidang seperti religius, politik dan estetika. Hal ini juga bergesar pada ilmu pengetahuan sekaligus mewakilki potensi-potensi yang ada pada budaya Amerika, (Hasan, 2001: 90).
Dewey menganggap pentingnya pendidikan dalam rangka mengubah dan membaharui suatu masyarakat. Ia begitu percaya bahwa pendidikan dapat berfungsi sebagai sarana untuk peningkatan keberanian dan disposisi inteligensi yang terkonstitusi. Dengan itu, dapat pula diusahakan kesadaran akan pentingnya penghormatan pada hak dan kewajiban yang paling fundamental dari setiap orang.
Gagasan ini juga bertolak dari gagasannya tentang perkembangan seperti yang sudah di bahas sebelumnya. Baginya ilmu mendidik tidak dapat dipisahkan dari filsafat. Maksud dan tujuan sekolah adalah untuk membangkitkan sikap hidup yang demokratis dan untuk mengembangkannya. Pendidikan merupakan kekuatan yang dapat diandalkan untuk menghancurkan kebiasaan yang lama, dan membangun kembali yang baru. Bagi Dewey, lebih penting melatih pikiran manusia untuk memecahkan masalah yang dihadapi, daripada mengisisnya secara sarat dengan formulasi-formulasi secara sarat teoretis yang tertib, (Anonim, 1992-2012).
Pendidikan harus pula mengenal hubungan yang erat antara tindakan dan pemikiran, antara eksperimen dan refleksi. Pendidikan yang bertolak dan merupakan kontuinitas dari refleksi atas pengalaman juga akan mengembangkan moralitas dari anak didik. Dengan demikian, belajar dalam arti mencari pengetahuan, merupakan suatu proses yang berkesinambungan.
Dalam proses ini, ada perjuangan terus-menerus untuk membentuk teori dalam konteks eksperimen dan pemikiran. Dari ilmu pengetahuan, Dewey dalam bukunya mengkombinasi tradisi dari Bacon dan Lock. Biologi yang menjadi kunci untuk membenarkan pengertian akan alam bukan ontologi. Selanjutnya dia terus pada metode pragmatismenya James dan memajukan supernatural dari pemikiran Amerika, (Syadali, 2004: 85).
B.     Eksistensialisme
Aliran filsafat yang satu ini lahir pada abad 19 oleh S. Kierkegaard (1813-1855) dan F. Nietsche (1844-1900). Pada abad ke 20 aliran eksistensisme menjadi aliran filsafat yang sangat penting. Filosof-filosof yang paling besar dari eksistensialisme diantaranya K. Jaspers, M. Heidegger, J.P Sartre, G. Marcel dan Merleau ponty, (surajiyo, 2005:161).
Akar metodelogi eksistensialisme ini berasal dari fenomenologi yang dikembangkan oleh Edmund husserl (1859-1938). Sedangkan munculnya filsafat eksistensialisme ini dari 2 orang ahli filsafat Soeran Kierkegaard dan Neitzche. Kedua tokoh diatas muncul karena adanya perang dunia pertama dan situasi Eropa pada saat itu, sehingga mereka tampil untuk menjawab pandangan tentang manusia, (Hadiwijono, 1980: 127).
Disamping itu, penyebab munculnya filsafat eksistensialisme ini yaitu adanya reaksi terhadap filsafat materialisme Marx yang berpedoman bahwa eksistensi manusia bukan sesuatu yang primer dan idealisme Hegel yang bertolak bahwa eksistensi manusia sebagai yang konkret dan subjektif karena mereka hanya memandang manusia menurut materi atau ide dalam rumusan dan system-sistem umum (kolektivitas social).
Kata dasar eksistensi (existency) adalah exist yang berasal dari kata Latin ex yang berarti keluar dan sister yang berarti berdiri. Jadi,eksistensi adalah berdiri dengan keluar dari diri sendiri. Pikiran semacam ini dalam bahasa Jerman disebut dasein. Da berarti di sana, sein berarti berada. Berada bagi manusia selalu berarti di sana, di tempat. Tidak mungkin ada manusia tidak bertempat.
Bertempat berarti terlibat dalam alam jasmani, bersatu dengan alam jasmani. Akan tetapi, bertempat bagi manusia tidaklah sama dengan bertempat bagi batu atau pohon (Tafsir, 2013: 218). Pendapat lain terkait filsafat eksistensi adalah benar-benar sebagaimana arti katanya, yaitu filsafat yang menempatkan cara wujud manusia sebagai tema sentral (Hassan, 2001: 78).
Eksistensialisme menyatakan bahwa cara berada manusia dan benda lain tidaklah sama. Manusia berada di dunia; sapi dan pohon juga. Akan tetapi, cara beradanya tidak sama. Manusia berada di dalam dunia, ia mengalami beradanya di dunia itu manusia menyadari dirinya berada di dunia. Manusia menghadapi dunia, menghadapi dan mengerti yang dihadapinya itu. Manusia mengerti pohon, batu, dan salah satu diantaranya ialah ia mengerti bahwa hidupnya mempunyai arti. Artinya ialah bahwa manusia adalah subyek. Subyek artinya yang menyadari, yang sadar. Barang-barang yang disadarinya itu disebut objek. Sehingga disebutkan disini manusia adalah subyek sedangkan benda atau materi lainnya adalah obyek, (Tafsir, 2009: 192).
Dengan demikian, eksistensialisme tentunya berbicara hakekat manusia dan segala sesuatu yang berkenaan dengan dirinya seperti bakat, keinginan, kebutuhan, kewajiban yang harus dikerjakan oleh manusia yang sebagai halifah dimuka bumi dengan kata lain adalah manusia mempunyai potensi yang harus dikebangkannya.
Rene Deskates (1596-1650) dalam (Hamersama, 1983: 142) seorang tokoh rasionalisme, menjelaskan bahwa jiwa adalah terpadu, rasional, dan kosisten yang dalam aktifitasnya yang selalu terjadi interaksi dengan tubuh. Interaksi jiwa dan tubuh ini dapat mangubah makna nafsu yang dimaknai dengan pengalaman-pengalaman sadar  yang disertai dengan emosi jasmaniah.
Manusia sebagai makhluk individu memiliki hak untuk hidup, merdeka, dan milik. Menurut Allport, sebagai makhluk individu maka manusia memiliki sifat unik yang hanya dimiliki oleh dirinya sendiri, berdiri sendiri, dan bersifat otonom. Eksistensialisme yang mendukung kebebasan manusia sesuai dengan hak manusia untuk bebas hidup dan tinggal dimana saja sesuai keinginannya. Manusia sebagai makhluk social harus dapat bertoleransi untuk dapat menjalin kehidupan yang harmoni dengan sesamanya, orang-orang yang berada di sekitarnya. Hal ini menyebabkan manusia harus belajar untuk dapat menghormati keinginan orang lain yang berarti manusia harus bias menekan sifat egonya (Muzairi, 2009: 96).
Sebagai makhluk ekonomi, manusia akan selalu mencoba mereduksi martabat manusia yang hanya sekadar alat prosuksi dan hanya bermanfaat demi kepentingan kaum kapitalis serta mengkapitalisasi segala sumber daya dari sisi ekonomi. Dari hal ini terlihat bahwa manusia tidak ingin terkekang oleh kaum kapitalis. Manusia ingin bebas dalam mengelola ekonominya. Hal ini sesuai dengan eksistensialisme yang tidak mau menurut begitu saja, tetapi harus berjuang untuk mendapatkan kebebasannya, (Sudiarja, 2006: 78).
Berikut ini beberapa tokoh yang menganut aliran eksistensialisme. Diantaranya:
1.        Soren Kierkegaard (1813-1855)
a.      Riwayat hidup Soren Kierkegaard (1813-1855)
Kierkegaard lahir di Kopenhagen, Denmark pada 5 Mei 1813 dan meninggal dunia tanggal 11 November 1855 saat berumur 42 tahun. Ayahnya, Michael Pedersen Kierkegaard, adalah seorang pedagang grosir yang menjual kain, pakaian, serta makanan dan seseorang yang sangat saleh. Ia yakin bahwa ia telah dikutuk Tuhan, dan karena itu ia percaya bahwa tak satupun dari anak-anaknya akan mencapai umumr melebihi usia Yesus Kristus, yaitu 33 tahun, (Anonim, 2013).
Ia percaya bahwa dosa-dosa pribadinya, seperti misalnya mengutuki nama Allah pada masa mudanya dan kemungkinan juga menghamili ibu Kierkegaard di luar nikah, menyebabkan ia layak menerima hukuman ini. Meskipun banyak dari ketujuh anaknya meninggal dalam usia muda, ramalannya tidak terbukti ketika dua dari mereka melewati usia ini. Sedangkan ibu Soren Kierkegaard bernama Anne Sorensdatter Lund Kierkegaard. 
Setelah mengenyam pendidikan di sekolah putra yang prestisius di Borgerdydskolen, ia melanjutkan pendidikan tingginya di Universitas Kopenhagen. Di sini pria yang bernama lengkap Soren Aabye Kierkegaard ini mempelajari filsafat dan teologi. Di universitas, Kierkegaard menulis disertasinya, tentang Konsep Ironi dengan rujukan terus-menerus kepada Socrates, yang oleh panel universitas dianggap sebagai karya yang penting dan dipikirkan dengan baik, namun agak terlalu berbunga-bunga dan bersifat sastrawi untuk menjadi sebuah tesis filsafat.
Kierkegaard lulus pada 20 Oktober 1841 dengan gelar Magistri Artium, yang kini setara dengan Ph.D. Dengan warisan keluarganya, Kierkegaard dapat membiayai pendidikannya, ongkos hidupnya. Soren Kierkegaard dianggap sebagai bapak filsuf eksistensialisme. Ajarannya beraliran eksistensialisme dan dia sangat bertentangan dengan Hegelian, (Anonim, 2012).
b.      Ajaran dan Karya Kefilsafatan
Soren sangat bertentangan akan ajaran dari Hegelian. Sehingga dia sering menjadi kritikus akan ajaran Hegel. Pemikiran, sebagai kritik atas Hegel, menekankan pada aspek subjektivisme. Hal ini akan membuat individu melupakan tanggung jawab pribadinya secara etis, bahkan akan menghilangkan eksistensi, (Tafsir, 2013: 222).
Menurut Kierkegaard, filsafat tidak merupakan suatu sistem, tetapi suatu pengekspresian eksistensi individual. Karena ia menentang aliran filsafat yang bercorak sistematis, dapat dimengerti mengapa ia menulis karyanya dengan menggunakan nama samaran.Pertama-tama Kierkegaard memberikan kritik terhadap Hegel. Mula-mula memang ia tertarik pada filsafat Hegel yang telah popular di kalangan intelektual di Eropa ketika itu, tetapi tidak lama kemudian ia melancarkan kritiknya.
Keberatan utama yang diajukan oleh Kierkegaard kepada Hegel ialah karena Hegel meremehkan eksistensi yang kongkret karena ia (Hegel) mengutamakan idea yang sifatnya umum. Menurut Kierkegaard, manusia tidak pernah hidup sebagai suatu “aku umum”, tetapi sebagai “aku individual” yang sama sekali unik dan tidak dapat dijabarkan ke dalam sesuatu yang lain, (Maksum, 2011: 222).
Dengan demikian, Kierkegaard menganggap yang penting bagi manusia adalah keadaannya sendiri atau eksistensinya sendiri. Akan tetapi, harus ditekankan, bahwa eksistensi manusia bukanlah suatu “ada”  yang statis, melainkan suatu “menjadi”, yakni adanya suatu perubahan secara dinamis. Apa yang semula berada sebagai kemungkinan  berubah atau bergerak menjadi suatu kenyataan. Perpindahan atau perubahan ini adalah suatu perpindahan yang bebas, yang terjadi dalam kebebasan dan keluar dari kebebasan yaitu karena pemilihan manusia, (Anonim, 2013).
Jadi eksistensi manusia adalah suatu eksistensi yang dipilih dalam kebebasan. Bereksistensi berarti bereksistensi dalam suatu perbuatan, yang harus dilakukan setiap orang bagi dirinya sendiri. Sebagian besar dari karya-karya Kierkegaard membahas masalah-masalah agama misalnya hakikat iman, lembaga Gereja Kristen, etika dan teologi Kristen, dan emosi serta perasaan individu ketika diperhadapkan dengan pilihan-pilihan eksistensial.  Menurut Sutarjo (2006:142) dalam Anonim (2012) mengatakan beberapa karya Soren, diantaranya:
1)      Either/Or (Enten/Eller) -1844
Buku ini terdiri dari dua bagian yang mempertentangkan pandangan hidup yang estetis dengan yang etis. Karya yang panjang ini menampilkan catatan-catatan pribadi milik Soren. Karyanya yang ini berfungsi baik sebagai kritik ataupun parodi terhadap filsafat dari Hegelian. 
2)      Fear and Trembling (Frygt og Baeven) -1844
Soren mengambil dari contoh pengorbanan Ishak oleh Abraham. Di dalam buku ini, ajaran atau kepercayaan bahwa segala tindakan disebabkan karena adanya tujuan yang ingin dicapai. Sampai akhirnya Soren befikir bahwa ini seperti tidak masuk akal karena manusia harus menaati perintah Allah. Namun itu merupakan ketaatan manusia kepada Allah.
3)      Works Of Love (Kjerlighedens Gjerninger)-1846
Sebuah buku yang meneliti perintah "Kasihilah sesamamu seperti kau mengasihi dirimu sendiri'. karyanya ini menjelaskan akan kekuatan cinta. Bagaimana manusia mecintai sesama, dan bagaimana cinta sejati tanpa keegoisan, yang mungkin hanya terjadi antara manusia dan Tuhan.
c.       Sumbangan Ajaran Filsafat Kiergegaard
Eksistensialisme telah memberikan sumbangan yang sangat besar bagi ilmu, terutama dalam membuka jalan terhadap kebutuan yang ditimbulkan oleh paham materialisme yang mengatakan bahwa : “manusia itu pada hakekatnya adalah barang material belaka, yang walaupun bentuknya lebih unggul, tetapi manusia itu adalah resultante dari proses-proses kimiawi”. Bagi eksistensialis, manusia itu tidak hanya sekedar material atau kesadaran, tetapi lebih daripada itu, (Anonim, 2012).
Eksistensialisme mengakui bahwa setiap individu memiliki keunikan masing-masing dan menganggap kebebasan sebagai sesuatu yang asasi bagi setiap individu dalam penentuan eksistensi diri sendiri. Pengaruh yang sangat menonjol eksistensialisme terhadap pendidikan modern dewasa ini adalah kesadaran terhadap adanya perbedaan eksitensial pada setiap individu siswa, dan timbulnya penghargaan terhadap kebebasan siswa dalam menentukan pilihannya.
2.      Jean Paul Sartre (1905-1980)
a.      Riwayat Hidup Jean Paul Sartre (1905-1980)
Jean Paul Sartre lahir di Paris pada tahun 1905 dan meninggal pada tahun 1980. Ia belajar pada Ecole Normale Superieur pada tahun 1924-1928. Setelah tamat dari sekolah itu pada tahun1929, ia mengajarkan filsafat di beberapa Lycees, baik di Paris maupun di tempat lain. Dari tahun 1933 sampai tahun 1935 ia menjadi mahasiswa peneliti pada Institut Francais di Berlin dan Universitas Freiburg. Tahun 1938 terbit novelnya yang berjudul La Nausee, dan Le Mur terbit pada tahun 1939.
Sejak itu, muncullah karya-karya yang lain dalam bidang filsafat. Tatkala pecah perang pada tahun 1939, ia menggabungkan diri dalam pasukan Prancis, dan pada tahun 1940 ia ditangkap oleh Jerman. Setelah dibebaskan ia kembali ke Paris. Di sana ia meneruskan karyanya sebagai pengajar dalam bidang filsafat sampai tahun 1944. Dalam waktu inilah dia menyelesaikan bukunya yang terkenal, L’Etree et Le Neant, pada tahun 1943, (Sudiarja, 2006: 80).
Selain sebagai seorang guru besar, ia juga seorang pejuang. Dalam perang dunia kedua ia menjadi salah seorang pemimpin pertahanan. Sebagai novelis dan dramawan namanya amat terkenal. Tahun 1964, ia menolak menerima hadiah Nobel dalam bidang kesusastraan. Sekalipun pada dasarnya buah pikirannya merupakan pengembangan pemikiran Kierkegaard, ia mengembangkannya sampai pada tahap yang amat jauh, (Tafsir, 2013: 224).
b.      Ajaran dan Karya Kefilsafatan
Bagi Sartre, eksistensi manusia mendahului esensinya. Pandangan ini amat janggal sebab biasanya sesuatu harus ada esensinya lebih dulu sebelum keberadaannya. Bila kita berpikir bahwa Tuhan adalah pencipta, maka kita akan membayangkan bahwa Tuhan mengetahui secara persis apa yang akan diciptakan-Nya. Jadi, konsep sesuatu yang akan diciptakan oleh Tuhan itu telah ada sebelum sesuatu itu diciptakan. Jika demikian, maka bagi manusia pun berlaku formula esensi mendahului eksistensi. Akan tetapi, Sartre menyatakan bahwa itu semua berlawanan dengan kenyataan (Surajiyo, 2005: 201).
Sartre menjelaskan karena manusia mula-mula sadar bahwa ia ada, itu berarti manusia menyadari bahwa ia menghadapi masa depan, dan ia sadar dengan perbuatan mereka. Hal ini menekankan suatu tanggung jawab pada manusia. Inilah yang dianggap sebagai ajaran pertama dan utama dari filsafat eksistensialisme. Bila manusia itu bertanggung jawab atas dirinya sendiri, itu bukan berarti ia bertanggung jawab hanya pada dirinya sendiri, tetapi juga seluruh manusia (Struhl: 37 dalam Tafsir, 2009: 226).
Jadi eksistensi manusia bukan sekedar hendak menjelaskan keadaan beradanya manusia di tengah manusia dan selain manusia, tetapi menjelaskan tanggung jawab yang dipikul oleh manusia. Sartre mengatakan bahwa dalam memutuskan itu, orang berdiri sendiri. Ini karena baginya manusia itu pengada yang sadar persoalannya menjadi rumit. Pertama ia sadar lalu muncul tanggung jawab, karena tanggung jawab, manusia harus menentukan.
Dari sinilah timbul kesendirian, lalu rasa takut itu akan muncul. Manusia itu merdeka, bebas. Oleh karena itu, ia harus bebas menentukan, memutuskan. Dalam menentukan, memutuskan, ia bertindak sendirian tanpa orang lain yang menolong atau bersamanya. Ia harus menentukan untuk dirinya dan untuk seluruh manusia. Kenyataan manusia, sebagaimana dinyatakan oleh Sartre adalah nasibnya diserahkan kepada dirinya sendiri dengan tiada bantuan (Tafsir, 2009: 230).
c.       Sumbangan Filsafat Eksistensialisme
Eksistensialisme tidak menyukai pendidikan yang menyajikan program menurut kelompok seperti program pendidikan formal di sekolah dewasa ini, karena bagi eksistensialis program kelompok semacam itu berarti telah mengingkari eksistensi siswa sebagai individu. Eksistensialisme tidak menyukai pendidikan profesi, misalnya pendidikan kejuruan atau pendidikan spesialis di pendidikan tinggi.
Eksistensialis menganggap pendidikan profesi mempunyai sasaran utama pada pencarian obyektivitas, logika dan intelektualitas, dan kurang mengenai sasaran emosi, estetika dan moral yang merupakan kepentingan pokok eksistensialisme. Eksistensialisme mengingatkan bahwa ilmu hendaknya tidak menjadi sasaran atau tujuan pendidikan, tetapi ilmu itu harus ditempatkan secara proposional, hanya sebagai alat dalam pengembangan eksistensi manusia, (Anonim, 2014).
C.     Fenomenologi
Menurut Surajiyo (2005:162) mengatakan bahwa kata fenomenologi berasal dari kata dalam bahasa Yunani fenomenom yaitu sesuatu yang tampak, yang terlihat karena bercahaya, dalam bahasa indonesia hal ini disebut dengan “gejala”. Bisa dikatakan bahwa aliran yang membicarakan fenomena adalah suatu kejadian yang dapat terlihat. Surajiyo juga menjelaskan bahwa kata fenomenom (disingkat: fenomen) atau gejala dapat dipakai dalam berbagai arti. Kata fenomen atau gejala dapat dipertentangkan dengan kenyataan. Sehingga dapat dikatakan bahwa fenomen ini bukanlah sesuatu yang nyata tetapi semu.
Secara harfiah, fenomenologi atau fenomenalisme adalah aliran atau faham yang menganggap bahwa fenomenalisme adalah sumber pengetahuan dan kebenaran. Fenomenalisme juga adalah suatu metode pemikiran, (Maksum, 2011:368).
Fenomenologi merupakan sebuah aliran. Yang berpendapat bahwa, hasrat yang kuat untuk mengerti yang sebenarnya dapat dicapai melalui pengamatan terhadap fenomena atau pertemuan kita dengan realita. Karenanya, sesuatu yang terdapat dalam diri kita akan merangsang alat inderawi yang kemudian diterima oleh akal (otak) dalam bentuk pengalaman dan disusun secara sistematis dengan jalan penalaran. Penalaran inilah yang dapat membuat manusia mampu berpikir secara kritis, (Anonim,2014).
Fenomenologi merupakan kajian tentang bagaimana manusia sebagai subyek memaknai obyek-obyek di sekitarnya. Ketika berbicara tentang makna dan pemaknaan yang dilakukan, maka hermeneutik terlibat di dalamnya. Pada intinya, bahwa aliran fenomenologi mempunyai pandangan bahwa pengetahuan yang kita ketahui sekarang ini merupakan pengetahuan yang kita ketahui sebelumnya melalui hal-hal yang pernah kita lihat, rasa, dengar oleh alat indera kita. Fenomenologi merupakan suatu pengetahuan tentang kesadaran murni yang dialami manusia.
Secara umum fenomenologi lahir dari persoalan fenomena yang dibawa ke ruang publik pertama kali oleh Hegel dengan ruh absolutnya. Husserl lalu mendefinisikan fenomenologi sebagai ilmu tentang penampakan (fenomena), dan bagi Husserl berbicara tentang esensi di luar eksistensi adalah kerja sia-sia, dan hal inilah yang membedakan fenomenologi Husserl dengan fenomenologinya Hegel dan Kant.  Para filosof yang terpengaruh oleh fenomenologi adalah Derrida, Kierkegard, Cascirer, (Anonim,2013).
Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat difahami bahwa fenomenologi berarti ilmu tentang fenomena-fenomena apa saja yang nampak. Sebuah pendekatan filsafat yang berpusat pada analisis terhadap gejala yang menampakkan diri pada kesadaran kita. Metode fenomenologi berasal dari Edmunf Husserl (1859-1938) dan kemudian diperkembangkan oleh M. Scheler (1874-1928) dan M. Merleau Ponty. Dikatakan bahwa fenomenologi harus memperkenalkan gejala-gejala dengan menggunakan intuisi, (surajiyo, 2004:162).
1.        Edmund Husserl
a.      Riwayat Hidup Edmund Husserl
Edmund Husserl lahir pada tahun 1859, di kota Prossnitz di Moravia. Keluarganya adalah Yahudi (meskipun itu bukan keluarga ortodoks), Husserl sering berpindah tempat selama masa kecilnya. Beliau  mulai studi klasik Jerman di Realgymnasium di Wina pada usia 10 tahun, dan pada tahun berikutnya ditransfer ke Staatsgymnasium di Olmütz. Dia melanjutkan pendidikan di universitas Leipzig, beliau memfokuskan pendidikannya pada matematika, fisika dan filsafat, dengan kepentingan tertentu di bidang astronomi dan optik. Setelah dua tahun ia pindah ke Berlin untuk melanjutkan perhatiannya terhadap matematika, kembali lagi ke Wina, dan menyelesaikan gelar doktor pada tahun 1883, (Anonim: 1992-2012).
Edmund Husserl, salah satu arus pemikiran yang paling berpengaruh pada abad ke-20. Ia mulai karirnya sebagai ahli matematika, kemudian pindah ke bidang filsafat. Edmund Gustav Albrecht Husserl dilahirkan pada tanggal 8 April 1859 di Prostějov, Moravia, Ceko. Ia adalah seorang filsuf Jerman yang dikenal sebagai Bapak Fenomenologi.
Karya filsafatnya mempengaruhi karya-karya yang muncul setelahnya, antara lain, Edith Stein (St. Teresa Benedicta dari Salib), Eugen Fink, Max Scheler, Martin Heidegger, Jean-Paul Sartre, Emmanuel Lévinas, Rudolf Carnap, Hermann Weyl, Maurice Merleau-Ponty, dan Roman Ingarden. Pada tahun 1886 dia mempelajari psikologi dan banyak menulis tentang fenomenologi (Anonim, 2013).
Pada tahun 1887 Husserl berpindah agama menjadi Kristen dan bergabung dengan Gereja Lutheran. Ia mengajar filsafat di Halle sebagai seorang tutor (Privatdozent) di tahun 1887, lalu di Göttingen sebagai profesor di tahun 1901, dan di Freiburg im Breisgau dari tahun 1916 hingga ia pensiun pada tahun 1928. Setelah itu, ia melanjutkan penelitiannya dan menulis dengan menggunakan perpustakaan di Freiburg, hingga kemudian Ia dilarang menggunakan perpustakaan tersebut oleh Rektor setempat, karena ia keturunan Yahudi. Akibat pengaruh dari bekas muridnya, yang juga anak emasnya, Martin Heidegger. Husserl meninggal dunia di Freiburg pada tanggal 27 April 1938 dalam usia 79 tahun akibat penyakit pneumoniavi (Anonim, 2013).
b.      Ajaran dan Karya Kefilsafatan
 Husserl membedakan antara dunia yang dikenal dalam sains dan dunia di mana kita hidup. Selanjutnya Ia juga mendiskusikan tentang kesadaran dan perhatian terhadap dunia di mana kita hidup. Kita dapat menganggap sepi objek apapun tetapi kita tidak dapat menganggap sepi kesadaran kita, (Anonim,2013).
Eksistensi kesadaran adalah satu-satunya benda yang tidak dapat dianggap sepi. Pengkajian tentang dunia yang kita hayati serta pengalaman kita yang langsung tentang dunia tersebut menurut Husserl adalah pusat perhatian fenomenologi. Pandangan pandangannya tentang perhatian dan intuisi telah memberikan pengaruh kuat terhadap filsafat, khususnya di Jerman dan Perancis, (Hassan, 2001: 182).
Setelah tahun 1908 Fenomenologi Husserl menjadi “fenomenologi Transendental”. Dia berpendapat dalam periode ini bahwa kesadaran bukan bagian dari kenyataan, melainkan asal dari kenyataan. Husserl menolak kesadaran bipolaritas (kesadaran dua alam, subyek dan obyek).
 Artinya kesadaran tidak menemukan obyek-obyek. Obyek-obyek diciptakan oleh kesadaran. Dengan pendapat ini, Husserl dekat dengan idealisme. Bagi ilmu-ilmu, kesadaran dan alam memang tampak sebagai dua pola dalam kenyataan, namun harus dipasang dalam suatu ideologi idealitas yang hanya masih menerima satu pola, yaitu kesadaran.
Husserl mengajukan satu prosedur yang dinamakan epoche (penundaan semua asumsi tentang kenyataan demi memunculkan esensi). Tanpa penundaan asumsi naturalisme dan psikologisme, Kita akan terjebak pada dikotomi (subyek-obyek yang menyesatkan atau bertentangan satu sama lain), (Anonim,2013).
Contohnya, saat mengambil gelas, kita tidak memikirkan secara teoritis (tinggi, berat, dan lebar) melainkan menghayatinya sebagai wadah penampung air untuk diminum. Ini yang hilang dari pengalaman kita kalau kita menganut asumsi naturalisme. Dan ini yang kembali dimunculkan oleh Husserl. Akar filosofis fenomenologi Husserl ialah dari pemikiran gurunya, Franz Brentano.
Dari Brentano-lah Husserl mengambil konsep filsafat sebagai ilmu yang rigoris (sikap pikiran di mana dalam pertentangan pendapat mengenai boleh tidaknya suatu tindakan atau bersikeras mempertahankan pandangan yang sempit dan ketat). Sebagaimana juga bahwa filsafat terdiri atas deskripsi dan bukan penjelasan kausal. Karena baginya fenomenologi bukan hanya sebagai filsafat tetapi juga sebagai metode, karena dalam fenomenologi kita memperoleh langkah-langkah dalam menuju suatu fenomena yang murni, (Anonim, 2013).
Fakta bahwa kesadaran selalu terarah kepada obyek-obyek disebut intensionalitas. Hasil dari metode fenomenologi Husserl ialah perhatian baru untuk intensionalitas kesadaran. Kesadaran tidak pernah pasif karena menyadari sesuatu berarti mengubah sesuatu. Kesadaran itu bukan berarti suatu cermin atau foto. Kesadaran itu suatu tindakan.
Artinya terdapat interaksi antara tindakan kesadaran dengan obyek kesadaran. Namun interaksi ini tidak boleh dianggap sebagai kerjasama antara dua unsur yang sama penting. Karena akhirnya, hanya ada kesadaran, obyek yang disadari itu hanyalah suatu ciptaan kesadaran, (Tafsir, 2009: 240).
c.       Sumbangan Ajaran Filsafat Husserl
Memperbincangkan fenomenologi tidak bisa ditinggalkan pembicaraan mengenai konsep Lebenswelt (“dunia kehidupan”). Konsep ini penting artinya, sebagai usaha memperluas konteks ilmu pengetahuan atau membuka jalur metodologi baru bagi ilmu-ilmu sosial serta untuk menyelamatkan subjek pengetahuan (Syadali, 2004: 130).
Edmund Husserl, dalam karyanya, The Crisis of European Science and Transcendental Phenomenology, menyatakan bahwa konsep “dunia kehidupan” (lebenswelt) merupakan konsep yang dapat menjadi dasar bagi (mengatasi) ilmu pengetahuan yang tengah mengalami krisis akibat pola pikir positivistik dan saintistik, yang pada prinsipnya memandang semesta sebagai sesuatu yang teratur mekanis seperti halnya kerja mekanis jam.
Akibatnya adalah terjadinya 'matematisasi alam' dimana alam dipahami sebagai keteraturan (angka-angka). Pendekatan ini telah mendehumanisasi pengalaman manusia karena para saintis telah menerjemahkan pengalaman manusia ke formula-formula impersonal, (Anonim,2014).
Dunia kehidupan dalam pengertian Husserl bisa dipahami kurang lebih dunia sebagaimana manusia menghayati dalam spontanitasnya, sebagai basis tindakan komunikasi antar subjek. Dunia kehidupan ini adalah unsur-unsur sehari-hari yang membentuk kenyataan seseorang, yakni unsur dunia sehari-hari yang ia alami dan jalani, sebelum ia menteorikannya atau merefleksikannya secara filosofis.
Konsep dunia kehidupan ini dapat memberikan inspirasi yang sangat kaya kepada ilmu-ilmu sosial, karena ilmu-ilmu ini menafsirkan suatu dunia, yaitu dunia sosial. Dunia kehidupan sosial ini tak dapat diketahui begitu saja lewat observasi seperti dalam eksperimen ilmu-ilmu alam, melainkan terutama melalui pemahaman (verstehen). Apa yang ingin ditemukan dalam dunia sosial adalah makna, bukan kausalitas yang niscaya.
Tujuan ilmuwan sosial mendekati wilayah observasinya adalah memahami makna. Seorang ilmuwan sosial, dalam hal ini, tidak lebih tahu dari pada para pelaku dalam dunia sosial itu. Oleh karena itu, dengan cara tertentu ia harus masuk ke dalam dunia kehidupan yang unsur-unsurnya ingin ia jelaskan itu. Untuk dapat menjelaskan, ia harus memahaminya. Untuk memahaminya, ia harus dapat berpartisipasi ke dalam proses yang menghasilkan dunia kehidupan itu, (Anonim, 2014). 


2.      Max Scheller (1874-1928)
a.      Riwayat Hidup Max Scheller

Max Scheler adalah filsuf yang terkenal dari aliran fenomenologi Husserl. Dia dilahirkan di Munchen tahun 1874, mendapat gelar doctor pada tahun 1897 dibawah pimpinan filsuf Rudolf Eucken. Sesudah menjadi tersohor karena karangan-karangannya, maka pada tahun 1928 dia dipanggil ke Frankrut a.M untuk menjadi guru besar. Akan tetapi sebelum mulai tugasnya, dia sudah meninggal dunia, (Anonim,2012).
b.      Ajaran dan Karya Kefilsafatan
Max berpendapat bahwa metode fenomenologi sama dengan cara tertentu untuk memandang realitas. Dalam hubungan ini kita mengadakan hubungan langsung dengan realitas berdasarkan intuisi (pengalaman fenomenologi).
Menurutnya ada 3 fakta yang memegang peranan penting dalam pengalaman filsafat. Diantaranya:
1)      Fakta natural, yaitu berdasarkan pengalaman inderawi yang menyangkut benda-benda yang nampak dalam pengalaman biasa.
2)      Fakta ilmiah, yaitu yang mulai melepas diri dari penerapan inderawi yang langsung dan semakin abstrak.
3)      Fakta fenomenologis, merupakan isi intuitif yang merupakan hakikat dari pengalaman langsung, (Wiramihardja, 2006: 143).
Di samping Husserl, filsuf  lain yang juga terlibat dalam filsafat fenomenologi adalah Max Scheler. Scheler juga menggunakan metode Husserl dan tidak berusaha untuk menganalisa dan menerangkan lebih jauh tentang suatu obyek dan gejala-gejalanya. Bagi Scheler, fenomenologi merupakan “jalan keluar” ketidakpuasannya atas logisisme-transendentalis Immanuel Kant dan Psikologisme Empiris.
Max Scheler berpikir dengan seluruh hati dan jiwanya. Artinya bagi manusia dengan tabi’at semacam itu, cara berpikir yang sesuai ialah terjun dan menenggelamkan diri dalam pengalaman yang kongkrit. Bagi Scheler, yang terutama bukanlah pikiran, yang terutama ialah perbuatan. Berbuat, sekali lagi berbuat, mengalami dan merasakan, itulah dan disitulah letak pengertian menurut Scheler, (Hasan,2001: 244).
Max Scheler merupakan salah satu orang yang sangat mengagumi pemikiran Husserl tentang fenomenologi. Pada awalnya ia memang tidak setuju dan menentang seluruh aliran-aliran falsafah pada waktu itu, tentunya juga dengan metodenya. Buktinya, dari sekian lama ia memcari metode sendiri dan pada akhirnya ia menemukan metode yang menurutnya baik. Metode tersebut adalah metode yang dibawa oleh Husserl yaitu metode fenomenologi.
Scheler mendasarkan metode fenomenologinya kepada hati dan perasaan. Maksudnya, untuk menggapai kebenaran hakiki manusia harus berinteraksi dengan objek sebagaimana teori Husserl. Namun, ketika manusia menghadapi fenomena, yang tampak sebagai kebenaran merupakan adalah sesuatu yang tampak pada hati dan perasaan. Mungkin Scheler tergila-gila dengan cinta atau terjerat virus-virus cinta. sehingga dalam menghadapi fenomen ia menghadapinya dengan cinta, (Hamersma,1983: 233).
Selain itu Scheler menambahkan sesuatu di metode fenomenologi Husserl. Inilah diantara yang menjadi ciri has metode Scheler. Scheler mengatakan manusia harus menahan segala sesuatu atau pengakuan dalam menghadapi realita. Manusia harus melepaskan diri dari dari kecendrungan ia atau tidak, begini atau begitu. Sehingga yang tersisa hanyalah realitas dari fenomen itu sendiri. Selanjutnya, tidak hanya melepaskan dari apa yang telah dijabarkan di atas.
Manusia juga harus melepaskan dirinya sendiri dari diri sendiri dan ikatan yang bersifat kegemaran, kesenangan dan terutama dari belenggu hidup yang rendah. Dalam hal ini Scheler tampak sebagai orang yang bijak sana. Karena ia menyarankan untuk melakukan sesuatu yang terpuji sepert jangan sombong, rendah hati dan lain sebagainya (Anonim, 2014).
Untuk memahami pengertian nilai, Max Scheler mencoba untuk memisahakan terlebih dahulu dua sifat yang terdapat pada nilai (material dan apriori), kendati Scheler tidak memisahakan pembahasan dua dua sifat nilai ini kedalam point point seperti yang saya lakukan. Akan tetapi, di sini suhaimi mencoba untuk memisahkannya guna memahami pandangannya mengenai nilai tetapi kita tetap diajak unutk mebacanya dalam satu kesatuan. Nilai dibagi menjadi 3, yaitu:
1)      Nilai Material 
Nilai itu material. Material di sini bukanlah dalam arti “ada kaitan dengan materi”melainkan sebagai lawan dari formal, materi sebagai “berisi”. Berisi itu berartikualitas nilai tidak berubah dengan adanya perubahan pada barang atau pada pembawanya. Misalnya nilai itu selalu mempunyai isi “jujur”, “enak”, “kudus”,”benar”, “sehat”, “adil”, yang semuanya itu berbeda dan masing-masing memiliki nilai. Contoh lain, misalnya: pengkhianatan seorang teman tidak mengubah nilai persahabatan. Nilai persahabatan tetap merupakan nilai persahabatan, tidak terpengaruh jika teanku berbalik mengkhianatiku.


2)      Nilai Apriori
Nilai merupakan kualitas apriori. Max Scheler mengatakan bahwa kebernilaian nilai itu mendahului pengalaman. Misalnya: apakah makanan tertentu enak atau tidak,harus kita coba dulu. Akan tetapi, bahwa “yang enak” merupakan sesuatu yang positif, sebuah nilai, dan bahwa yang bernilai “yang enak” dan bukan “yang enak’ itu tidak perlu kita coba dulu.
Begitu juga kejujuran, keadilan; bahwa kejujuran, Keadilan sendiri merupakan sebuah nilai yang kita ketahui secara langsung begitu kita menyadari apa itu kejujuran dan keadilan. Maka, kejujuran dan keadilan pertama tama bukanlah sebuah konsep mengenai kejujuran dan keadilan melainkan nilai kejujuran dan nilai keadilan.
3)      Hierarki Nilai
Scheler percaya bahwa nilai itu tersusun dalam sebuah hubungan hierarki apiori. Dan ini harus ditemukan di dalam hakikat nilai itu sendiri, bahkan berlaku juga bagi nilai yang tidak kita ketahui. Dalam keseluruhan realitas, nilai hanya terdapat satu susunanhierarki yang menyusun seluruh nilai masing-masing memiliki tempatnya sendiri-sendiri.
Suatu nilai memiliki kedudukan lebih tinggi atau lebih rendah daripada yang lain. Menurut Max Scheler, kenyataan bahwa suatu nilai lebih tinggi daripada yang laindapat dipahami dalam suatu tindakan pemahaman khusus terhadap nilai, yaitu dengan tindakan preferensi; suatu pemahaman akan tingkat tinggi dan rendahnya suatu nilai (Anonim, 2014).


3.      Martin Heidegger
a.      Riwayat Hidup Martin Heidegger
Martin Heidegger adalah seorang filusuf Jerman yang karyanya terkait dengan Fenomenologi dan Eksistensialisme. Heidegger lahir pada tanggal 26 September 1889 di Messkirch, Jerman. Ia tumbuh dan dibesarkan dalam tradisi Katholik Roma yang ketat, dimana ayahnya bertugas sebagai koster pada gereja Katholik Santo Martinus. Ia mengikuti sekolah menengah di Konstanz dan Freiburg Im Breisgau. Pada tahun 1909 ia masuk universitas Freiburg untuk belajar di Fakultas Teologi.
Setelah mempelajari Teologi selama 4 semester, ia mengubah haluan dan mengerahkan seluruh perhatiannya kepada studi filsafat, ditambah dengan kuliah-kuliah tentang ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan social. Heidegger memperoleh gelar doktor filsafat pada tahun 1913 dengan disertasi tentang Die Lehre Vom Urteil Im Psychologismus (ajaran tentang putusan dalam psikologisme), (Hadiwijoyo, 1990: 201).
Pada tahun 1916 Heidegger mulai belajar filsafat Fenomenologi kepada Husserl, bahkan kemudian ia menjadi asistennya. Disamping itu selama tahun 1916-1919, Heidegger mencoba mengkaji dogma-dogma katholik yang rigid dan mengerakkan dogma-dogma tersebut ke faham protestan liberal. Tahun 1923 ia diangkat menjadi profesor filsafat di universitas Marburg, disini ia menerbitkan karyanya yang pertama yaitu Being and Time (Sein Und Zeit) tahun 1927. Dia kembali ke Freiburg pada tahun 1928 untuk menggantikan Edmund Husserl. Pada tahun 1933 dia memperoleh jabatan Rektor pada unversitas Freiburg. Dia meninggal pada tanggal 26 Mei 1976, (Anonim, 2011).
Disamping karya monumentalnya Sein Un Zeit, Heidegger juga menerbitkan banyak karya lagi yang kebanyakan menyajikan salah satu ceramah atau serangkaian ceramah yang pernah dibawakannya seperti Kant Und Das Problem Der Metaphysic (Kant dan Problem Metafisik, 1929), Was Ist Differanz (Identitas dan Perbedaan, 1957) dan masih banyak karyanya yang lain, (Anonimi, 2014).
b.      Ajaran dan Kefilsafatannya
Menurut Heidegger, manusia itu terbuka bagi dunianya dan sesamanya. Kemampuan seseorang untuk bereksistensi dengan hal-hal yang ada di luar dirinya karena memiliki kemampuan seperti kepekaan, pengertian, pemahaman, perkataan atau pembicaraan, (Tafsir, 2000: 224).
Bagi heidegger untuk mencapai manusia utuh maka manusia harus merealisasikan segala potensinya meski dalam kenyataannya seseorang itu tidak mampu merealisasikannya. Ia tetap sekuat tenaga tidak pantang menyerah dan selalu bertanggungjawab atas potensi yang  belum teraktualisasikan. Dimana setiap manusia beranggung jawab atas dirinya sendiri.
Perhatian utama dari seorang Heidegger adalah Ontologi. Dalam karyanya, “Being dan Time”, ia mencoba untuk mengakses Being (Sein) dengan melalui analisis Fenomenologis tentang eksistensi manusia (Dasein) yang berkenaan ke karakter duniawi dan sejarah manusia. Dalam Being And Time Heidegger menyatakan bahwa studi tentang diri kita atau Dasein (berada-ada) adalah perkara penting untuk menanyakan makna keberadaan.
Ini lantaran kitalah satu-satunya entitas yang mempersoalkan atau menanyakan makna keberadaan. Kita, tidak seperti binatang, mampu secara sadar untuk memilih bagaimana kita ingin berada atau juga apakah kita ingin berada. Konteks dimana kita hidup mungkin membatasi pilihan yang kita ambil, namun kita masih bisa memilih. Lewat pilihan-pilihan kitalah ide-ide kita tentang makna keberadaan seorang manusia mengemuka. Selain itu, aktivitas kita sehari-hari didunia dibentuk oleh kemampuan kita untuk menngkap fakta keberadaan seluruh entitas. Kita oleh karena itu memiliki pemahaman ontologism, (Anonim, 2014).
Dalam persfektif yang lain mengenai sesosok Heidegger menjadi salah satu filsafat yang fenomenal yaitu bahwa ia mengemukakan tentang konsep suasana hati (mood). Seperti yang kita ketahui bahwa dengan suasana hatilah kita diatur oleh dunia kita, bukan dalam pendirian pengetahuan observasional yang berjarak. Biasanya, dengan posisi kita yang sedang bersahabat dengan suasana hati, maka kita akan bisa mengenali diri kita yang sesungguhnya.
Karena suasana hati bisa menjadi tolak ukur untuk mengetahui hakikat diri dengan banyaknya pertanyaan yang muncul seperti pencarian jati diri siapa kita sesungguhnya, apa kemampuan kita, dan apa kekurangan atau kelebihan yang kita miliki, bagaimanakah kehidupan kita yang selanjutnya dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Konsep inilah yang menguatkan pendapat banyak orang mengenai sesosok orang yang mampu melihat noumena dan phenoumena, (Anonim, 2013).









3.       Maurice Merleu-Ponty
a.      Riwayat Hidup Maurice Merleu-Ponty
Maurice Merleu-Ponty adalah seorang filosof fenomenologi asal Perancis. Ia dilahirkan pada 14 Maret 1908 di Rochefort-sur-Mer, Charente-Maritime, Perancis. Merleu-Ponty ditinggal ayahnya yang meninggal pada 1913 akibat perang dunia I. Merleu-Ponty menghabiskan masa mudanya menuntut ilmu di  lycée Louis-le-Grand, Paris.
Setamatnya dari sana, ia melanjutkan di  École Normale Supérieure, dimana ia belajar bersama-sama dengan pemikir eksistensialis terkemuka, Jean Paul Sartre, Simone de Beauvoir. Dia menyelesaikan studi di bidang filsafat tahun 1930. Persahabatannya dengan Sartre berlangsung 7 tahun, sampai ia menentang keputusan Sartre yang menjadi pengikut Marxisme garis keras, (Anonim,2015).
Merleau-Ponty pertama kali mengajar di Chartes, untuk kemudian dianugerahi gelar doktoral atas dua karya pentingnya, La structure du comportement (1942) dan Phénoménologie de la Perception (1945). Merleu-Ponty juga sempat mengajar di Universitas Lyon dan Sorbonne, sebelum kemudian terpilih menduduki kursi philosophy di College de France, sejak 1952 hingga kematiannya pada 1961. Merleu-Ponty adalah orang termuda yang pernah menduduki kursi tersebut, (Anonim,2015).


b.      Ajaran dan Karya Kefilsafatan
Sebagaimana halnya Husserl, ia yakin seorang filosof benar-benar harus memulai kegiatannya dengan meneliti pengalaman. Pengalamannya sendiri tentang realitas, dengan begitu ia menjauhkan diri dari dua ekstrim yaitu :
Pertama, hanya meneliti atau mengulangi penelitian tentang apa yang telah dikatakan orang tentang realita dan Kedua, hanya memperhatikan segi-segi luar dari pengalaman tanpa menyebut-nyebut realitas sama sekali. Walaupun Marlean-Ponty setuju dengan Husserl bahwa kitalah yang dapat mengetahui dengan sesuatu dan kita hanya dapat mengetahui benda-benda yang dapat dicapai oleh kesadaran manusia, namun ia mengatakan lebih jauh lagi, yakni bahwa semua pengalaman perseptual membawa syarat yang essensial tentang sesuatu alam di atas kesadaran.
Oleh karena itu deskripsi fenomenologi yang dilakukan Marlean-Ponty tidak hanya berurusan dengan data rasa atau essensi saja, akan tetapi menurutnya, kita melakukan perjumpaan perseptual dengan alam. Marlean-Porty menegaskan sangat perlunya persepsi untuk mencapai yang real, (Anonim,2013).
Corak filsafatnya sangat dipengaruhi oleh karya Husserl, karena ia berangkat dari intensionalitas Husserl yang menunjukkan hubungan antara kesadaran dengan objek. Fenomenologi khas Merleu-Ponty ditujukan untuk menyangkal apa yang dipandangnya sebagai kecenderungan kembar dari filsafat Barat, yaitu antara empirisme dan idealisme. Dia berusaha untuk mengartikulasikan relasi antara subjek-objek, diri-dunia, dan semua dualisme lainnya.
Karya emas Merleu-Ponty yang membuatnya terkenal adalah Phenomenology of Perception yang dipublikasikan di Perancis tahun 1945. Dalam buku tersebut ia berpendapat bahwa makna dari tubuh, atau dia istilahkan dengan 'tubuh-subjek' terlalu dipinggirkan oleh tradisi filsafat Barat yang menganggap tubuh sebagai objek yang diperintah pikiran untuk melakukan berbagai fungsi.
Dalam hal ini Merleu-Ponty menunjukkan bahwa segala sesuatu tidaklah muncul sendiri pada kesadaran kita, pun juga tidaklah nampak karena persepsi yang berasal dari sensasi atomis dalam pikiran. Sebaliknya, segala sesuatu yang kita alami dapat ditemukan dari dialog subjek-objek, (Anonim,2015).
Kehadiran tubuh sebagai subjek, menurut pria yang meninggal akibat penyakit stroke ini adalah wahana dari cara mengada manusia yang disebutnya Etre-au-monde. Tubuhku menunjukkan bahwa aku dan duniaku saling terlibat. Menurutnya melalui tubuhku aku mengenali obyek-obyek di sekitarku, aku memeriksanya dari segi yang satu ke segi yang lain sehingga dengan cara itu aku menyadari duniaku dengan perantaraan tubuhku.
Tubuhku adalah subyek, karena melalui tubuh sikap-sikap subyektifku kukenali sendiri. Melalui tubuh aku mengungkapkan eksistensiku, karena aku dikenal sebagai subyek melalui tubuhku. Melaui tubuhku aku memaknai dan memberi bentuk kepada obyek-obyek. Suatu kubus kukenali sebagai kubus, suatu bentuk yang bersisi enam dan identik satu sama lain, karena aku memeriksanya dari segi-ke-segi dengan tubuhku. Akhirnya , tubuhku adalah subyek karena melaui tubuhku itu aku mengada di dunia. Tidak dapat dibayangkan sebuah kehadiran tanpa tubuh, (Anonim, 2011).
4.      Sumbangan Filsafat Fenomenologi Terhadap Ilmu Pengetahuan Masa Kini
Kontribusi dan tugas fenomenologi dalam hal ini adalah deskripsi atas sejarah lebenswelt (dunia kehidupan) tersebut untuk menemukan ‘endapan makna’ yang merekonstruksi kenyataan sehari-hari. Maka meskipun pemahanan terhadap makna dilihat dari sudut intensionalitas (kesadaran) individu, namun ‘akurasi’ kebenarannya sangat ditentukan oleh aspek intersubjektif. Dalam arti, sejauh mana ‘endapan makna’ yang detemukan itu benar-benar di rekonstruksi dari dunia kehidupan sosial, dimana banyak subjek sama-sama terlibat dan menghayati, (Anonim, 2011).
Demikianlah, dunia kehidupan sosial merupakan sumbangan dari fenomenologi, yang menempatkan fenomena sosial sebagai sistem simbol yang harus dipahami dalam kerangka konteks sosio-kultur yang membangunnya. Ini artinya unsur subjek dilihat sebagai bagian tak terpisahkan dari proses terciptanya suatu ilmu pengetahuan sekaligus mendapatkan dukungan metodologisnya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar