Jumat, 18 September 2015

SISTEM FILSAFAT



BAB I
SISTEM FILSAFAT
Manusia adalah mahluk istimewa yang diciptakan Allah SWT. Keistimewaan manusia terletak pada potensi-potensi yang Allah berikan kepadanya.Baik itu potensi yang berupa fisik ataupun non-fisik. Semua potensi fisik manusia memiliki fungsi yang sangat luar biasa kegunaannya bagi keberlangsungan hidup manusia itu sendiri, begitupun dengan potensi non-fisik yang terdiri atas: jiwa (psyche), akal (ratio) dan rasa (sense).
Dengan potensi akalnya, manusia mampu menjadi mahluk yang lebih mulia kedudukannya daripada mahluk lain. Allah telah mengaruniai manusia sebuah anugerah yang mampu menjadikan manusia mahluk yang berbudaya.Berbeda dengan hewan yang tidak mampu berbudaya dikarenakan hewan tidak memiliki akal. Dengan akalnya ini pula manusia mampu berfikir, bernalar dan memahami diri serta lingkungannya, berefleksi tentang bagaimana ia sebagai seorang manusia memandang dunianya dan bagaimana ia menata kehidupannya.
I. SISTEM FILSAFAT
A. PENGANTAR KEPADA FILSAFAT
1.  Asal Mula Timbulnya Filsafat

Orang Yunani yang hidup pada abad ke-6 SM mempunyai sistem kepercayaan bahwa segala sesuatunya harus diterima sebagai sesuatu yang bersumber pada mitos atau dongeng-dongeng. Artinya suatu kebenaran lewat akal pikir (logis) tidak berlaku, yang berlaku hanya suatu kebenaran yang bersumber dari mitos  (dongeng-dongeng).
Setelah abad ke-6 SM muncul sejumlah ahli pikir yang menentang adanya mitos. Mereka menginginkan adanya pertanyaan tentang istri alam semesta ini, jawabannya dapat diterima akal (rasional). Keadaan yang demikian ini sebagai suatu demitiologi, artinya suatu kebangkitan pemikiran untuk menggunakan akal pikir dan meninggalkan hal-hal yang sifatnya mitologi.
 Upaya para ahli pikir untuk mengarahkan kepada suatu kebebasan berfikir, ini kemudian banyak orang mencoba membuat suatu konsep yang dilandasi kekuatan akal pikir secara murni, maka timbullah peristiwa ajaib The Greek Miracle yang artinya dapat dijadikan sebagai landasan peradaban dunia (Muzairi, 2009:41-42).
a.   Dari Mitos Menuju Logos
Mitos merupakan cara manusia untuk menjelaskan kehidupan melalui cerita, dongeng, legenda, dll. Cerita, dongeng, dan legenda tersebut memunculkan tokoh pahlawan yang didewakan atau dewa-dawa itu sendiri .manusia menjelaskan realita yang ada dengan menghadirkan sosok dewa-dewi yang mengatur kehidupan. Apa  yang mereka terima lebih berupa ‘wahyu.’ Karena penjelasan tersebut diterima begitu saja turun temurun tanpa disertai penelitian (Anonim, 2010).
Mitos juga didefinisikan didalam kamus ilmiah popular sebagai sesuatu yang berhubungan dengan kepercayaan primitif, tentang kehidupan alam gaib yang timbul dari usaha-usaha manusia yang tidak ilmiyah dan tidak berdasarkan pada pengalaman yang nyata untuk menjelaskan dunia. Mitos juga dapat diartikan sebagai suatu keyakinan yang keliru yang mempengaruhi pengalaman manusia atau sesuatu yang tidak masuk akal karena tidak logis atau tidak berdasarkan pada logika (Anonim, 2010).
1)      Logos
           Yang dimaksud dengan logos adalah prinsip-prinsip rasional yang mengatur dan mengembangkan alam semesta. Secara umum logos juga bisa diartikan sebagai ilmu.
Logos juga bisa dihubungkan dengan logika karna logika itu sendiri memiliki arti suatu pemikiran yang membuat kita mengetahui mana yang masuk akal dan mana yang tidak masuk akal. Atau sesuatu yang masuk akal itu bisa disebut sesuatu yang logis.
Hal ini sangat jelas berbeda dengan mitos, karna pada penjelasan yang telah diuraikan diatas mitos disebut sebagai sesuatu yang tidak masuk akal, maka logos mempunyai arti yang sebaliknya dari mitos, logos lebih mengedepankan sesuatu yang logis dan dapat diterima oleh akal.Dari uraian disini maka sangatlah terlihat jelas bahwasanya mitos dan logos merupakan sesuatu yang sangat berbeda dan bertolak belakang antara satu dengan yang lain. Akan tetapi semua ini akan bisa kita tenemukan hubungan antara mitos dan logos dengan mempelajari ilmu filsafat (Anonim, 2014).
Munculnya filsafat di Yunani, sering disebut orang sebagai The Greek Miracle (keajaiban Yunani). Disebut sebagai keajaiban, karena sulitnya ditemukan alasan-alasan yang dapat dipertanggung jawabkan yang bisa menerangkan dan menjawab pertanyaan kenapa filsafat lahirnya di Yunani.
Namun demikian, tumbuh suburnya cerita-cerita mitos di tengah-tengah masyarakat Yunani bisa dianggap sebagai hal yang mempermudah lahirnya filsafat. Secara demikian, unsur mitologi dapat dipandang menjadi faktor pemicu dan yang memudahkan bagi lahirnya filsafat seperti yang kita kenal sekarang.
Bila kita mengacu pada pengertian real dari filsafat yaitu Filsafat adalah pengetahuan mengenai semua hal melalui sebab-sebab terakhir yang didapat melalui penalaran atau akal budi. Ia mencari dan menjelaskan hakekat dari segala sesuatu. Maka segala sesuatu yang telah di dapat manusia tentang segala sesuatu yang bersifat tidak absolut, sulit dibuktikan kebenaranya atau yang berupa mitos.
Manusia berusaha menggali lebih dalam tentang kebenaran sesuatu yang ia dapatkan dengan filsafat itu sendiri agar apa yang ia dapatkan itu bersifat logos. Dalam hal ini filsafat dikatakan sebagai upaya manusia untuk membebaskan diri dari belenggu-belenggu mitos dengan menggunakan logos (Anonim, 2012).
Dengan berfilsafat dan berfikir secara mendalam, kita akan memperoleh bukti-bukti ilmiah dan rasional, yang mana bukti tersebut dapat digunakan untuk membuktikan kebenaran mitos tersebut dan mitos yang tidak terbukti kebenarannya akan ditinggalkan masyararakat, maka jelas dengan filsafat orang bisa merubah sesuatu yang tidak masuk akal menjadi masuk akal.
Maka dari pikiran dengan ini filsafat mulai menunjukan perananya dalam memajukan pikiran manusia dan membuat sejarah baru dalam dunia pemikiran manusia. Dahulu manusia hanya menerima secara mutlak segala sesuatu yang sampai kedapanya tanpa memikirkan atau mencari hakekat kebenaran dari sesuatu yang ia dapatkan itu.
Contoh yang dapat kita ambil dari peranan atau kontribusi filsafat dalam mendekonstruksi mitos adalah, pada zaman dahulu orang percaya kepada mitos yang mengatakan hilangnya kapal laut di lautan kemudian ditemukan kembali setelah kurun waktu yang tidak menentu itu disebabkan kapal tersebut diambil oleh roh jahat atau diambil oleh si penjaga laut.
Mereka menganggap alasan roh jahat ataupun si penjaga laut untuk menambil kapal laut itu karena ia marah yang disebabkan oleh kapal laut yang melanggar aturan untuk tidak melewati kawasan laut tertentu (Anonim, 2010).
 Ternyata setelah dicari kebenaran mitos tersebut dengan melakukan penalaran dengan akal sehat serta studi tentang ilmu yang berkaitan dengan itu juga melakukan upaya dekonstruksi kepada mitos itu, maka ditemukan kelemahan dan ketidak absolutnya mitos itu, yaitu ditemukanya semacam bukit yang terdapat di dalam samudra atau yang lazim disebut palung.
Yang mana dengan keberadaan palung tersebut ketika air laut bergelombang maka air laut dan barang-barang yang berada tepat diatas palung tersebut masuk kedalam palung tersebut dengan bentuk pusaran air, dan setelah itu dimuntahkan atau dikeluarkan kembali setelah beberapa saat.
Dari kejadian ini dapat kita tangkap bahwa sebuah mitos dapat diruntuhkan dengan ditemukanya kebenaran yang logis dengan menggunakan filsafat dalam menemukan kebenaran, setelah melakukan penalaran, penelitian, analisa kejadian terakhir dan studi ilmu.Oleh karna itu filsafat mempunyai peranan yang sangat penting dalam merubah mitos menjadi logos, dan pada intinya filsafat mampu merubah mitos menjadi logos atau filsafat mampu merubah sesuatu yang tidak masuk akal menjadi masuk akal (Anonim, 2010).
Filsafat mendekanstruksi (menghancurkan sampai pondasi) merubah total menghilangkan bentuk awal  dari mitos menjadi logos. Dengan cara mengubah cara pikir (budaya mentalitas) primitif menjadi berkelas dengan fenomna-fenomna ilmiah dengan penelitian dan pembuktian yang brdasarkan logika dan dapat diterima.
Bahwa tidak ada sesuatu yang serta merta tiba-tiba terjadi tanpa ada proses didalamnya. Filsafat menggiring manusia pada hakekatnya dan menggunakan bagian dari pada dirinya yang membedakanya dengan yang lain secara optimal berdasarkan fungsinya yaitu berfikir.itulah penyebab beralihnya mitos menjadi logos (Anonim, 2012).

b.      Rasa InginTahu
   Keindahan alam besar, terutama ketika malam hari, menimbulkan keinginan pada orang Grik untuk mengetahui rahasia alam itu. Keinginan mengetahui rahasia alam, berupa rumusan-rumusan pertanyaan, ini juga menimbulkan filsafat (Tafsir.1990:14).
   Pada zaman modern ini penyebab timbulnya pertanyaan adalah kesangsian. Sangsi itu merupakan setingkat dibawah percaya dan setingkat di atas tak percaya. Bila manusia menghadapi suatu pernyataan, ia mungkin percaya, dan ia mungkin tidak percaya. Akan tetapi, ia mungkin juga percaya tidak percaya juga tidak. Inilah sangsi.
Bagi filosof pertanyaan itu menggelisahkan, merintangi, mengganggu. Pertanyaan yang membentur dalam pikiran itu dalam bahasa Yunani disebut problema, yang menunjukkan sesuatu yang ditaruh di depan, merintangi perjalanan kita, harus disingkirkan agar tidak membentur kaki (Beerling, 1966:10).
Sangsi menimbulkan pertanyaan. Pertanyaan menyebabkan pikiran bekerja. Pikiran bekerja menimbulkan filsafat. Jadi, ingin tahu itulah pada dasarnya penyebab timbulnya filsafat. Ingin tahu ini dahulunya disebabkan oleh dongeng dan keheranan pada kebesaran alam; pada zaman modern ingin tahu timbul karena sangsi, lantas ingin kepastian. Ingin tahu muncul dalam bentuk pertanyaan. Pertanyaan menimbulkan filsafat (Surajiyo, 2012: 17).
   Adanya keinginan mempertentangkan antara mite dan logos disebabkan oleh rasa keingintahuan manusia tentang dunia yang dihadapinya. Mite-mite yang sifatnya tidak rasional memberikan ketidakpuasan manusia sehingga mendorong mereka mencari jawabannya pada logos. Jawaban-jawaban inilah yang kemudian disebut filsafat.
   Dalam kaitan ini Dick Hartoko mengatakan : filsafat berawal dari rasa heran dan kagum, hal-hal yang dalam kehidupan sehari-hari dianggap sebelumnya luar biasa, kelahiran dan kematian, ada dan tidak ada susul menyusul. Manusia mencari prinsip umum yang mendasari keseluruhan sebagai suatu sistem atau struktur yang memberi arti kepada segala sesuatu  (Anonim, 2009).
Jadi, rasa ingin tahu akan menyebabkan timbulnya filsafat, dari rasa ingin tahu tersebut dapat dilontarkan melalui pertanyaan-pertanyaan, dari pertanyaan tersebut menyebabkan otak akan bekerja dan mulai berfikir dan berfilsafat untuk menemukan jawaban yang bisa memuaskan hati dan menjawab rasa ingin tahu tersebut.
c.       Rasa Takjub
Menurut Beerling (1966:8) yang dikutip Tafsir (1990:14) mengatakan bahwa orang Yunani yang mula-mula sekali berfilsafat di barat mengatakan bahwa filsafat timbul karena ketakjuban. Ketakjuban menyaksikan keindahan dan kerahasiaan alam semesta ini lantas menimbulkan keinginan mengetahuinya.
Plato mengatakan bahwa filsafat dimulai dari ketakjuban. Sikap heran atau takjub itu akan lahir dalam bentuk bertanya. Pertanyaan itu memerlukan jawaban. Bila pemikir menemukan jawaban, jawaban itu dipertanyakan lagi karena ia selalu sangsi pada keheranan yang ditemukannya.
Patrick (Mulder, 1966) mengatakan, manakala keheranan mereka menjadi serius dan penyelidikan menjadi sistematis, mereka menjadi filosofis. Sartre (Beerling, 1966) mengatakan bahwa kesadaran pada manusia ialah bertanya yang sebenar-benarnya. Pada bertanya itulah manusia berada dalam kesadarannya yang sebenar-benarnya.
Banyak filusuf menunjukkan rasa heran (dalam bahasa Yunani Thaumasia) sebagai asal filsafat . Plato misalnya mengatakan: “Mata kita memberi pengamatan bintang-bintang, matahari, dan langit. Pengamatan ini memberi dorongan untuk menyelidiki. Dari penyelidikan ini berasal filsafat” (Surajiyo.2012:15).
Rasa heran, orang-orang yang berfilsafat, awalnya akan dirundung rasa heran mendalamtentang sesuatu hal. Tentang hidup, tentang cara kerja alam, tentang cara apapun yang diherankan.Dalam bahasa Yunani, hal itu disebutThaumasia rasa heran dan kagum terhadap sesuatu hal.Seperti kata Plato, filsafat itu ada berawal dari dorongan rasa ingin tahu yang menyelidiki tentangbintang-bintang, matahari, dan fenomena alam lainnya.
Dari situlah muncul filsafat sebagai sesuatuyang selalu ingin tahu. Dan karena itulah, filsuf-filsuf awal yang mulai berfilsafat adalah para filsufalam, seperti Thales, Anaximandros, Anaximenes, dan herakleitos. Para filsuf itu, pada masa itu,mulai mencari-cari tahu tentang prinsip kerja alam semesta. Ketika itu mereka berfilsafat dengan alam (Anonim, 2010).
Selain rasa ingin tahu dan pertentangan antar mitos dan logos, menurut Plato, filsafat juga lahir karena adanya kekaguman manusia tentang dunia dan lingkungannya. Rasa kagum mendorong manusia untuk memberikan jawaban-jawaban dalam bentuk praduga.
Praduga ini kemudian dipikirkan oleh logos dalam bentuk rasionalisasi. Rasionalisasi ini merupakan awal lahir filsafat, misalnya para filsut Yunani yang kagum terhadap alam semesta, mencoba merumuskan asal muasal arche dari alam semesta tersebut sehingga muncullah aneka teori diantaranya :
a.    Thales yang mengatakan bahwa alam semesta berasal dari air
b.    Anaximandros yang mengatakan bahwa alam semesta berasal dari apairon
c.    Anaximenes yang mengatakan bahwa alam semesta berasal dari udara
d.    Democrios yang mengatakan bahwa alam semesta berasal dari atom
e.    Empedocles yang mengatakan bahwa alam semesta berasal dari empat unsur yaitu api, tanah, air dan udara (Anonim, 2009).
d.      Keterbatasan Hidup
Menurut Harry Hamersma, Manusia mulai berfilsafat jika ia menyadari bahwa dirinya itu sangat kecil dan lemah terutama bila dibandingkan dengan alam sekelilingnya. Manusia merasa bahwa ia sangat terbatas dan terikat terutama pada waktu mengalami penderitaan atau kegagalan. Dengan kesadaran akan keterbatasan dirinya ini manusia mulai berfilsafat. Ia mulai memikirkan bahwa di luar manusia yang terbatas pasti ada sesuatu yang tidak terbatas (Surajiyo,2012:15).
Rasa keterbatasan, kesadaran, dan ketidakberdayaan. Manusia, sering sekali merasa dirinya lemah, takberdaya, mereka sadar bahwa tak selamanya mereka merasa segalanya, kuncinya adalah, mereka sadar. Setelah sadar, mereka melakukan perenungan-perenungan untuk menyetabilkan rasa keterbatasan itu.
Dalam keterbatasan, di situlah manusia berfilsafat. Contohnya adalah, ketika mereka terbaring sakit tak berdaya, lemah, mereka sadar bahwa mereka terbatas dalam suatu hal. Lalu, mereka mempertanyakan suatu hal yang mengganjal di hati mereka, misalnya, kenapa aku sakit? Untuk apa aku sakit? Atau bisa juga suatu kondisi miskin dan kaya.
 Misalnya, mengapa aku miskin? Aku rajin ibadah, tapi kenapa aku miskin? Kenapa mereka yang kaya? Setiap ada situasi yang membatasi gerak mereka, melemahkan nalar, dan menyadarkan jiwa, maka saat itulah manusia mulai berfilsafat (Anonim, 2010).
2.      Arti dan Definisi  Filsafat
Pengertian filsafat, dalam sejarah perkembangan pemikiran kefilsafatan antara satu ahli filsafat dan ahli filsafat lainnya selalu berbeda, dan hampir samabanyaknya dengan ahli filsafat itu sendiri. Pengertian filsafat dapat ditinjau dari dua segi, yakni secara etimologi dan terminology.
a.    Arti Filsafat secara Etimologi
Filsafat secara etimolgis berasal dari bahasa Yunani Philosophia,Philos artinya suka, cinta atau kecenderungan pada sesuatu, sedangkan Sophia artinya kebijaksanaan. Dengan demikian secara sederhana dapat diartikan cinta atau kecenderungan pada kebijaksanaan (Mustansyir dan Munir, 2009:2).
Menurut Lasiyo dan Yuwono, kata filsafat yang dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah falsafah dan dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah philoshopy adalah berasal dari bahasa Yunani philosophia. Kata philosophia terdiri atas kata philein yang berarti cinta (love) dan Sophia yang berarti kebijaksanaan (wisdom).
Sehingga etimologi istilah filsafat berarti cinta kebijaksanaan  (love of wisdom) dalam arti yang sedalam-dalamnya. Dengan demikian, seorang filsuf adalah pecinta atau pencari kebijaksanaan. Kata filsafat pertama kali digunakan oleh Pyhtagoras (582-496 SM) (Surajiyo.2012:1).
Menurut Poedjawijatna (1974) yang dikutip dalam bukunya Ahmad Tafsir (1990:9) menyatakan bahwa kata filsafat berasal dari kata Arab yang berhubungan rapat dengan kata Yunani, bahwa asalnya memang dari kata Yunani. Kata Yunaninya adalah philosophia. Dalam bahasa Yunani kata philosophia. Merupakan kata majemuk yang terdiri atas philo dan Sophia, philo artinya cinta dalam arti yang luas, yaitu ingin, dan karena itu lalu berusaha mencapai yang diinginkan itu.
Sophia artinya kebijakan yang artinya pandai, pengertian yang mendalam. Jadi, menurut namanya saja filsafat boleh diartikan ingin mencapai pandai, cinta pada kebijakan.
Menurut Nasution yang dikutip Amsal (1996:6) mengatakan bahwa filsafat berasal dari bahasa Arab, yaitufalsafaadenganawazanaatauatimbanganafa’lala, fa’lalah dan  fi’lal . Kalimat isim atau kata benda dari kata falsafa ini adalah  falsafah dan filsaf .
 Dalam bahasa Indonesia, lanjut Harun banyak terpakai kata filsafat, padahal bukan dari kata falsafah (Arab) dan bukan pula dari philosophy (Inggris), bahkan juga bukan merupakan gabungan dari dua kata fill (mengisi atau menempati) dalam bahasa Inggris dengan safah (jahil atau tidak berilmu) dalam bahasa Arab sehingga membentuk istilah filsafat.
Konon Phytagoras, seorang filsuf Yunani klasik, mengambil kata “filsafat” dari dua kata berbahasa Yunani, yaitu Philo dan Sophia. Philo berarti cinta, sedangkan Sophia berarti bijaksana. Jadi kata Philosophia berarti cinta kebijaksanaan (Isma’il dan Mutawalli, 2012:17).
Jadi, menurut beberapa kutipan di atas, dapat dipahami bahwa pengertian filsafat secara etimologi ialah keinginan yang mendalam untuk mendapat kebijakan, atau keinginan yang mendalam untuk menjadi bijak.  
b.      Arti Filsafat secara Terminologi
Secara terminologi adalah arti yang dikandung oleh istilah filsafat. Dikarenakan batasan dari filsafat itu banyak maka sebagai gambaran perlu diperkenalkan sebagai berikut.
Poejawitna (1974) mendefinisikan filsafat sebagai sejenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran belaka.
 Hasbullah Bakry (1971) mengatakan bahwa filsafat ialah sejenis pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta dan juga manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.
Para filusuf mengartikan filsafat secara terminology sebagai berikut :
1)     Plato
Plato berpendapat bahwa filsafat adalah pengetahuan yang mencoba untuk mencapai pengetahuan tentang kebenaran yang asli.
2)    Aristoteles
Menurut Aristoteles, filsafat adalah ilmu (pengetahuan)yang meliputi kebenaranyang di dalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika retorika, etika, ekonomi, politik dan estetika (filsafat keindahan).
3)     Al Farabi
Filsuf Arab ini mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu (pengetahuan) tentang hakikat bagaimana alam maujud yang sebenarnya.
4)     Rene Descartesi
Menurut Descartes, filsafat adalah kumpulan semua pengetahuan dimana Tuhan, alam, dan manusia menjadi pokok penyelidikan.
5)     Immanuel kant
Menurut Kant, filsafat adalah ilmu (pengetahuan) yang menjadi pangkal dari semuapengetahuan yang di dalamnya tercakup masalah epistemologi (filsafat pengetahuan) yang menjawab persoalan apa yang dapat diketahui.
6)     Hasbullah Bakri
Menurut Bakry, ilmu filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta dan juga manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu (Abbas Hamami M, 1976).
7)     Langeveld
Mahaguru Rijks-Universiteit Utrecht ini berpendapat bahwa filsafat adalah berfikir tentang masalah-masalah yang akhir dan menentukan, yaitu masalah-masalah mengenai makna keadaan, Tuhan, keabadian, dan kebebasan (Surajiyo. 2012 : 2).
Ada beberapa definisi filsafat yang telah diklasifikasikan berdasarkan watak dan fungsinya sebagai berikut:
a.    Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis (arti informal).
b.    Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat kita junjung tinggi (arti formal)
c.    Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan. Artinya filsafat berusaha untuk mengombinasikan hasil bermacam-macam sains dan pengalaman kemanusiaan sehingga menjadi pandangan yang konsisten tentang alam (arti spekulatif)
d.    Filsafat adalah analisis logis dari bahasa serta penjelasan tentang arti kata dan konsep. Corak filsafat yang demikian ini juga dinamakan juga logosentrisme (Mustansyir dan Munir,2009:3).
Jadi, pengertian filsafat secara terminologi  ialah daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami secara radikal dan integral serta sistematik mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia.
c.       Definisi Filsafat Menurut Filosof
Pengertian filsafat secara singkat menurut beberapa tokoh filsafat sebagai berikut:
1)        Pythagoras (572-497 SM); Menurut tradisi filsafati dari zaman Yunani Kuno, Pyhtagoras adalah orang yang pertama-tama memperkenalkan istilah philosophia, kata yang berasal dari bahasa Yunani yang kelak dikenal dengan istilah filsafat. Ia memberikan definisi filsafat sebagai the love of wisdom.
Menurut Pythagoras, manusia yang paling tinggi nilainya adalah manusia pecinta kebijakan (lover of wisdom), sedangkan yang dimaksud dengan wisdom adalah kegiatan melakukan perenungan tentang Tuhan. Pythagoras sendiri menganggap dirinya seorang pylosophos (pecinta kebijakan), baginya kebijakan yang sesungguhnya hanyalah dimiliki semata-mata oleh Tuhan.
2)        Socrates (469-399 SM); Ia adalah seorang filsuf dalam bidang moral yang terkemuka setelah Thales pada jaman Yunani Kuno. Socrates memahami bahwa filsafat adalah suatu peninjauan diri yang bersifat reflektif atau perenungan terhadap asas-asas dari kehidupan yang adil dan bahagia (principles of the just and happy life).
3)        Plato (427-347 SM); Seorang sahabat dan murid socrates ini telah mengubah pengertian kearifan (sophia) yang semula bertalian dengan soal-soal praktis dalam kehidupan menjadi pemahaman intelektual. Menurutnya, filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencari kebenaran asli.
 Dalam karya tulisnya Republic Plato ia menegaskan bahwa para filsuf adalah pencinta pandangan tentang kebenaran (vision of truth). Dalam pencarian terhadap kebenaran tersebut, hanya filsuf yang dapat menemukan dan menangkap pengetahuan mengenai ide yang abadi dan tak berubah.
Dalam konsepsi Plato, filsafat merupakan pencarian yang bersifat spekulatif atau perekaan terhadap pandangan tentang seluruh kebenaran. Filsafat Plato tersebut kemudian dikenal dengan filsafat spekulatif.
4)        Aristoteles (384-322 SM); Aristoteles adalah salah seorang murid Plato yang terkemuka. Menurut pendapatnya, sophia (kearifan) merupakan kebajikan intelektual tertinggi, sedangkan philosophia merupakan padanan kata dari episteme dalam arti suatu kumpulan teratur pengetahuan rasional mengenai sesuatu objek yang sesuai.
Menurutnya juga, filsafat adalah pengetahuan yang meliputi kebenaran yang didalamnya tergabung metafisika, logika, retorika, ekonomi, politik, dan estetika.
5)        Aliran Stoicisme; Aliran filsafat ini berkembang setelah lahirnya kerajaan Romawi Kuno. Pada dasarnya filsafat adalah suatu sistem etika untuk mencapai kebahagiaan dalam diri masing-masing orang dengan mengusahakan keselarasan antara manusia dengan alam semesta.
          Keselarasan itu dapat tercapai dengan hidup sesuai alam dengan mengikuti petunjuk akal sebagai asas tertinggi sifat manusiawi. Bagi para filsuf Stoic, filsafat adalah suatu pencarian terhadap asas-asas rasional yang mempertalikan alam semesta dan kehidupan manusia dalam suatu kebulatan tunggal yang logis.
6)        Al-Kindi (801-873 M); Ia adalah seorang filosof muslim pertama. Menurutnya filsafat adalah pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu dalam batas-batas kemampuan manusia, karena tujuan para filosof dalam berteori adalah mencari kebenaran, maka dalam berprakteknya pun harus menyesuaikan dengan kebenaran pula.
7)        Al-Farabi (870-950 M); Menurutnya, filsafat adalah pengetahuan tentang bagaimana hakikat alam wujud yang sebenarnya.
8)        Francis Bacon (1561-1626 M); Seorang filsuf Inggris ini mengemukakan metode induksi yang berdasarkan pengamatan dan percobaan menemukan kebenaran dalam ilmu pengetahuan. Ia menyebut filsafat sebagai ibu agung dari ilmu-ilmu (The great mother of the sciences) (Bakhtiar, 2010).
9)        Henry Sidgwick (1839-1900 M); Dalam bukunya Philosophy, Its Scope and Relations: An Introductory Course of Lectures Henry Sidgwick menyebutkan bahwa filsafat sebagai scientia scientarium (ilmu tentang ilmu).
Karena filsafat memeriksa pengertian-pengertian khusus, asas-asas pokok, metode khas, dan kesimpulan-kesimpulan utama dalam suatu ilmu apapun dengan maksud untuk mengkoordinasiakan semuanya dengan ha-hal yang serupa dari ilmu-ilmu lainnya.
10)    Bertrand Russel (1872-1970 M); Seorang filsuf inggris lainnya yang bernama lengkap Bertrand Arthur William Russel ini menganggap filsafat sebagai kritik terhadap pengetahuan, karena filsafat memeriksa secara kritis asas-asas yang dipakai dalam ilmu dan dalam kehidupan sehari-hari, dan mencari suatu ketakselarasan yang dapat terkandung dalam asas-asas itu (Anonim, 2012).
11)    J. A. Leighton; Ia menegaskan bahwa filasafat mencari suatu kebulatan dan keselarasan pemahaman yang beralasan tentang sifat alami dan makna dari semua segi pokok kenyataan. Suatu filsafat yang lengkap meliputi sebuah pandangan dunia atau konsepsi yang beralasan tentang seluruh alam semesta dan sebuah pandangan hidup atau ajaran tentang berbagai nilai, makna, dan tujuan kehidupan manusia.
12)    John Dewey (1858-1952) ; dalam karangannya Role of Philosophy in The History of Civilizations (Proceedings of The Sixht International Congress of Phylosophy) ia menganggap filsafat sebagai suatu sarana untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian antara hal-hal yang lama dengan yang baru dalam penyesuaian suatu kebudayaan.
 Filsafat merupakan suatu pengungkapan dari perjuangan-perjuangan manusia dalam usaha yang terus menerus untuk menyesuaikan kumpulan tradisi yang lama dengan berbagai kecenderungan ilmiah dan cita-cita politik yang baru.
13)    Poedjawijatna (1974); Ia menyatakan bahwa kata filsafat berasal dari kata Arab yang berhubungan rapat dengan kata Yunani, bahkan asalnya memang dari kata Yunani. Kata Yunaninya adalah ialah philosophia. Dalam bahasa Yunani kata philosophia merupakan kata majemuk yang terdiri atas philo dan sophia.
Philo artinya cinta dalam arti yang luas, yaitu ingin, dan karena itu selalu berusaha untuk mencapai yang diinginkannya itu. Sophia artinya kebijakan yang artinya pandai, pengertian yang mendalam. Jadi menurutnya, filsafat bisa diartikan ingin mencapai kepandaian, cinta pada kebijakan. Ia juga mendefinisikan filsafat sebagai sejenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran belaka.
14)    A. Sonny Keraf & Mikhael Dua; mereka mengartikan ilmu filsafat sebagai ilmu tentang bertanya atau berpikir tentang segala sesuatu (apa saja dan bahkan tentang pemikiran itu sendiri) dari segala sudut pandang. Thinking about thinking (Anonim, 2012).
15)    Menurut Fuad Hasan, Filsafat adal suatu ikhtisar untuk berfikir radikal, artinya mulai dari radiksnya suatu gejala, dari akarnya suatu hal yang hendak dimasalahkan. Dan dengan jalan penjajakan yang radikal itu filsafat berusaha untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan yang universal.
16)    I.R Poedjawitna, filsafat ialah ilmu yang berusaha mencari sebab sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu bagi segala sesuatu berdasarkan atas fikiran belaka (Sydzali dan Mudzakir.1999:17).
Jadi, dari beberapa pendapat para filusuf, dapat dipahami bahwa  pengertian filsafat adalah ilmu ilmu pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu yang ada secara mendalam dengan mempergunakan akal sampai pada hakikatnya. Filsafat tidak mempersoalkan tentang gejala-gejala atau fenomena, tetapi mencari  hakikat dari suatu gejala atau fenomena.
3.      Objek Kajian Filsafat
Objek adalah sesuatu yang merupakan bahan dari suatu penelitian atau pembentukan pengetahuan.Setiap ilmu pasti mempunyai objek, yang dibedakan menjadi dua, yaitu objek material filsafat dan objek formal.
a.    Objek Material Filsafat
Objek material adalah suatu bahan yang menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan itu. Objek material juga adalah hal yang diselidiki, dipandang, atau disorot oleh suatu disiplin ilmu. Objek material mencakup apa saja, baik hal-hal yang konkret ataupun hal yang abstrak (Surajiyo.2012:7).
Objek yang diselidiki disebut dengan objek material, yaitu segala yang mungkin ada dan mungkin ada tadi bersifat konkret seperti manusia, hewan, tumbuhan, benda,binatang, dan lain-lain maupun yang bersifat abstrak. Tentang objek material ini banyak yang sama dengan material sains. Bedanya ialah dalam dua hal.
Pertama, sains menyelidiki objek material yang empiris, filsafat menyelidiki objek itu juga, tetapi bukan bagian yang empiris, melainkan bagian yang abstraknya.Kedua, ada objek material filsafat yang memang tidak dapat diteliti oleh sains, seperti tuhan, hari akhir, yaitu objek material yang untuk selama-selamanya tidak empiris. Jadi objek materia filsafat tetap saja lebih luas dari objek material sains (Tafsir,1990:21).
Jadi, dapat dikatakan bahwa objek material filsafat ialah suatu bahan yang dapat dijadikan sebagai tinjauan penelitian yang bersifat konkret dan abstrak.
b.      Objek Formal Filsafat
Objek formal, yaitu sudut pandangan yang ditujukan pada bahan dari penelitian atau pembentukan pengetahuan itu, atau sudut dari mana objek material itu disorot. Objek formal suatu ilmu tidak hanya member keutuhan suatu ilmu, tetapi pada saat yang sama membedakannya dari bidang-bidang lain.
Satu objek material dapat ditinjau dari berbagai sudut sudut pandangan sehingga menimbulkan ilmu yang berbeda-beda. Misalnya, objek materialnya adalah “manusia” dan manusia ini ditinjau dari sudut pandangan yang berbeda-beda sehingga ada beberapa ilmu yang mempelajari manusia diantaranya psikologi, antropologi, sosiologi, dan sebagainya (Tafsir, 2000).
Objek formal filsafat, yaitu sudut pandangan yang menyeluruh, secara umum sehingga dapat mencapai hakikat dari objek materialnya.(Lasiyo dan Yuwono, 1985).Oleh karena itu, yang membedakan antara lain filsafat dengan ilmu lain terletak dalam objek material dan objek formalnya.
Kalau dalam ilmu-ilmu lain objek materialnya membatasi diri, sedangkan pada filsafat tdak membatasi diri.Adapun pada objek formalnya membahas objek materialnya itu sampai ke hakikat atau esensi dari yang dihadapinya (Surajiyo.2012:7).
Objek formal filsafat, yaitu Cara memandang seorang peneliti terhadap objek materi tertentu. Suatu objek materi tertentu dapat ditinjau dari berbagai macam sudut pandang yang berbeda, yang mana objek formal filsafat ialah penyelidikan yang mendalam artinya ingin taunya filsafat ingin tau bagian dalamnya. Kata mendalam artinya ingin tahu tentang objek yang tidak empiris.
Penyelidikan sains tidak mendalam karea ia hanya ingin tau sampai batas objek itu dapat diteliti secara empiris.sedangkan objek penelitian filsafat adalah pada daerah tidak dapat diriset tetapi dapat dipilarkan secara logis jadi sains menyelidiki dengan riset sedangkan filsafat menyelidiki dengan pemikiran (Tafsir, 2001:21).
Yang menjadi objek formal dari filsafat ialah hal-hal yang menyangkut hakikat, sifat dasar arti atau makna terdalam dari sesuatu itu. Misalnya mengenai manusia, yang dipersoalkan ialah mengenai apa hakikat manusia itu. Tentu saja bukan hal-hal yang dapat dijangkau dengan pengamatan indera, tetapi sma sekali hanya dapat dicapai dengan kemampuan rasio, rasa dan logika. Sebab tentang hakikat sesuatu bukanlah mengenai hal yang sifatnya empiric (Sydzali dan Mudzakir, 1999:17).
Jadi, dari beberapa kutipan di atas dapat dipahami bahwa objek formal filsafat merupakan sudut pandangan yang ditujukan pada bahan dari penelitian yang sifatnya menyeluruh dan , secara umum sehingga dapat mencapai hakikat dari objek materialnya. Atau bisa dikatakan objek formal adalah ilmu yang mempelajari objek material tersebut.
a.      Ciri-Ciri Filsafat
Menurut Suyadi M.P yang dikutip dalam bukunya Suraji (2012), Pemikiran kefilsafatan mempunyai karakteristik sendiri, yaitu menyeluruh, mendasar, dan spekulatif.
a.    Menyeluruh
Artinya, pemikiran yang luas karena tidak membatasi diri dan bukan hanya ditinjau dari satusudut pandangan tertentu. Pemikiran kefilsafatan ingin mengetahui hubungan antara ilmu yang satu dengan ilmu-ilmu yang lain, hubungan ilmu dengan moral, seni, dan tujuan hidup (Surajiyo, 2012:13).
Menurut Sumarna (2004:16), menjelaskan bahwa sifat berfikirnya menyeluruh. Seorang filosof tidak puas mengenal ilmu hanya dari perspektif ilmu itu sendiri. Ia ingin melihat ilmu dalam perspektif yang lain. Ia ingin menghubungkan ilmu dengan aspek-aspek yang lain.
b.    Mendasar
Artinya, pemikiran yang dalam sampai kepada hasil yang fundamental atau esensial objek yang dipelajarinya sehingga dapat dijadikan dasar berpijak bagi segenap nilai dan keilmuan.Jadi tidak hanya berhenti pada periferis (kulitnya) saja, tetapi sampai tembus ke dalamnya (Surajiyo, 2012:13).
Menurut Sumarna (2004:16), sifat berfikirnya mendasar. Seorang filosof selalu meragukan da selalu memberikan pertanyaan terhadap kebenaran atau pengetahuan yang diperolehnya. Misalnya, ia mempertanyakan mengapa ilmu dapat disebut benar?bagaimana proses penilaian berdasarkan criteria tersebut dilakukan?seperti sebuah lingkaran, pertanyaan-pertanyaan terhadap kebenaran yang dianutnya.
c.    Spekulatif
Menurut Sri Suprapto Wirodiningrat yang dikutip Surajiyo (2004) menjelaskan bahwa spekulatif artinya hasil pemikiran yang didapat dijadikan dasar bagi pemikiran selanjutnya.Hasil pemikirannya selalu dimaksudkan sebagai dasar untuk menjelajah wilayah pengetahuan yang baru.
Adapun menurut Ali Mudhofir dalam Surajiyo (2004:32) menyebutkan ciri-ciri berfikir secara kefilsafatan adalah sebagai berikut:
1)        Berfikir secara kefilsafatan dicirikan secara radikal. Radikal berasal dari kata Yunani radix yang berarti akar. Berfikir secara radikal adalah berfikir sampai ke akar-akarnya. Berfikir sampai ke hakikat, esensi atau sampai ke substansi yang dipikirkan.
Manusia yang berfilsafat dengan akalnya berusaha untuk dapat menangkap pengetahuan hakiki, yaitu pengetahuan yang mendasari segala pengetahuan indrawi.
2)        Berfikir secara kefilsafatan dicirikan secara universal (umum). Berfikir secara universal adalah berfikir tentang hal-hal serta proses yang bersifat umum, dalam arti tidak memikirkan sesuatu yang parsial. Filsafat bersangkutan dengan pengalaman umum dari umat manusia. Dengan jalan penjajagan yang radikal itu filsafat berusaha untuk sampai pada kesimpulan yang universal.
3)        Berfikir secara kefilsafatan dicirikan dengan koheren, artinya sesuai dengan kaidah berfikir (logis). Konsisten artinya tidak mengandung kontradiksi.
d.    Radikal
Menurut Sumarna (2004), radikal berasal dari bahasa Yunani, radix arti dasarnya adalah akar. Berfikir radikal berarti berfikir sampai ke akar-akarnya, tidak tanggung-tanggung, tidak ada sesuatu yang terlarang untuk dipikirkan.
Berfikir filsafat memiliki karakteristik sendiri yang dapat dibedakan dari bidang ilmu lain. Beberapa ciri berfikir kefilsafatan dapat dikemukakan sebagai berikut:
1)        Radikal, artinya berfikir sampai ke akar-akarnya, hingga samapai pada hakikat atau substansi yang dipikirkan.
2)        Universal, artinya pemikiran filsafat menyangkut pengalaman umum manusia.
3)        Komprehensif artinya mencakup atau menyeluruh. Berfikir secara kefilsafatan merupakan usaha untuk menjelaskan alam semesta secara keseluruhan (Mustansyir dan Munir, 2009:4).
5.  Cara Mempelajari Filsafat
Ada 3 macam metode mempelajari filsafat : metode sistematis, metode historis, dan metode kritis, sebagaimana dikatakan Tafsir (1990:20), yaitu:
1)   Metode Sistematis
                 Menggunakan metode ini berarti pelajar menghadapi karya filsafat. Misalnya mula-mula pelajar menghadapi teori pengetahuan yang terdiri atas beberapa cabang filsafat. Setelah itu ia mempelajari teori hakikat yang merupakan cabang lain.
Kemudian ia mempelajari teori nilai dan filsafat nilai. Dengan belajar filsafat melalui metode ini perhatian kita berpusat pada isi filsafat, bukan pada tokoh ataupun pada periode.

2)   Metode Historis
                 Metode ini digunakan bila para pelajar mempelajari filsafat dengan cara mengikuti sejarahnya, jadi sejarah pemikiran. Ini dapat dilakukan dengan membicarakan tokoh demi tokoh menurut kedudukannya dalam sejarah, misalnya dimulai dari membicarakan filsafat Thales, membicarakan riwayat hidupnya, pokok ajarannya, baik dalam teori pengetahuannya, teori hakikat, maupun dalam teori nilai.
Dalam menggunakan metode historis dapat pula pelajar menempuh cara lain, yaitu dengan cara membagi babakan sejarah filsafat. Misalnya mula-mula dipelajari filsafat kuno (ancient philosophy). Variasi cara mempelajari filsafat dengan metode historis cukup banyak yang pokok, mempelajari filsafat dengan menggunakan metode historis berarti mempelajari filsafat secara kronologis. Untuk pelajar pemula metode ini baik digunakan.
3)   Metode Kritis
                Metode ini digunakan oleh mereka yang mempelajari filsafat tingkat intensif.Pelajar haruslah sedikit banyak telah memiliki pengetahuan filsafat.Pelajaran filsafat pada tingkat sekolah pascasarjana sebaiknya menggunakan metode ini (Tafsir.1990:20).
6.  Manfaat Membelajari Filsafat
Manfaat mempelajari filsafat ada bermacam-macam. Namun sekurang-kurangnya ada 4 macam faedah, yaitu:
a)        Agar terlatih berfikir serius
b)        Agar mampu memahami filsafat
c)        Agar mungkin menjadi filsafat.
d)        Agar menjadi warga yang baik.

Selain itu juga mempelajari manfaat mempelajari filsafat adalah sebagi berikut :
a)        Filsafat menolong mendidik, membangun diri kita sendiri: dengan berfikir lebih mendalam, kita mengalami dan menyadari kerohanian kita. Rahasia hidup yang kita selidiki justru memaksa kita untuk berfikir, untuk hidup dengan sesadar-sadarnya, dan memberikan kita isi kepada hidup kita sendiri.
b)        Filsafat memberikan kebiasaan dan kepandaian untuk melihat dan memecahkan persoalan-persoalan dalam hidup secara dangkal saja, tidak mudah melihat persoalan-persoalan, apalagi melihat pemecahannya. Dalam filsafat kita dilatih melihat dulu apa yang menjadi persoalan, dan ini merupakan syarat muthla untuk memecahkannya.
c)        Filsafat memberikan pandangan yang luas, membendung akuisme dan aku-sentrisme (dalam segala hal hanya melihat dan mementingkan kepentingan dan kesenangan si aku).
d)        Filsafat merupakan latihan untuk berfikir sendiri, hingga kita tak hanya ikut-ikutan saja, membuntut pada pandangan umum, percaya akan setiap semboyan dan surat-surat kabar, tetapi secara kritis menyelidiki apa yang dikemukakan orang, mempunyai pendapat sendiri, berdiri sendiri, dengan cita-cita mencari kebenaran.
e)        Filsafat memberikan dasar-dasar, baik untuk hidup kita sendiri (terutama dalam etika) maupun untuk ilmu-ilmu pengetahuan dan lainnya, seperti sosiologi, ilmu jiwa, ilmu mendidik, dan sebagainya (Syadali dan Mudzakir, 1999:26).
Sesuatu di atas awan dan mencari rahasia di bawah bumi, sedangkan lubang di depan rumahnya pun tidak tahu. Kalau begitu, apa ada faidahnya mempelajari filsafat? Sekurang-kurangnya ada empat macam manfaat mempelajari filsafat: agar terlatik berpikir serius, agar mampu memahami filsafat, agar mungkin menjadi filosofi, dan agar menjadi warga Negara yang baik.
Disamping itu manfaat/kegunaan belajar  filsafat bisa didasarkan pada dua pertimbangan, dari sisi ilmu pengetahuan dan kehidupan sehari-hari.
Jan Hendrik Rappar membagi kegunaan filsafat ke dalam dua hal, yakni bagi ilmu pengetahuan dan bagi kehidupan sehari-hari.
1.    Kegunaan Filsafat Bagi Ilmu Pengetahuan
Tatkala filsafat lahir dan mulai tumbuh, ilmu pengetahuan masih merupakan bagian yang tak terpisahkan dari filsafat.Pada masa itu, para pemikir yang terkenal sebagai filsuf adalah juga ilmuwan.Para filsuf pada masa itu adalah ahli-ahli matematika, astronomi, ilmu bumi, dan berbagai ilmu pengetahuan lainnya.
Bagi mereka, ilmu pengetahuan itu adalah filsafat, dan filsafat adlh ilmu pengetahuan. Dengan demikian jelas terlihat bahw pad mulanya filsafat mencakup keseluruhan ilmu pengetahuan. Berkat ilmu pengetahuanlah manusia dapat meraih kemajuan yang sangat menakjubkan dalam segal bidang kehidupan. Teknologi canggih yang semakin mencengangkan dan fantastis adalah salah satu produk dari ilmu pengetahuan.
Bahkan pada abad-abad terakhir ini dalam peradapan dan kebudayaan barat, ilmu pengetahuan telah berperan sedemikian rupa sehingga telah menjadi tumpuan harapan banyak orang (Anshari, 1987).
2.    Kegunaan Filsafat Bagi Kehidupan Sehari-Hari
       Meskipun filsafat itu abstrak, bukan berarti ia sama sekali tidak bersangkut paut dengan kehidupan sehari-hari yang kongret. Keabstrakan filsafat tidak berarti bahwa filsafat itu tidak memiliki hubungan apa pun dengan kehidupan nyata sehari-hari.
       Kendati tidak memberi petunjuk praktis tentang bagaimana bangunan yang artistik dan elok, filsafat sanggup membantu manusia dengan memberi pemahaman tentang apa itu artistik dan elok dalam kearsitekturan sehingga nilai keindahan yang diperoleh lewat pemahaman itu akan menjadi patokan utama bagi pelaksanaan pekerjaan pembangunan tersebut.
Dengan demikian, filsafat menggiring manusia ke pengertian yang terang dan pemahaman ayang jelas. Tak hanya aaitu, ia pun menuntun manusia ke dalam tindakan dan perbuataaaan yang kongret. Berdasarkan pengertian yang terang dan pemahaman yang jelas (Anonim,2012).
         Menurut Surajiyo (2012:17) menyatakan bahwa Kegunaan filsafat dapat dibagi menjadi dua, yakni kegunaan secara umum dan secara khusus. Kegunaan secara umum di maksudkan manfaat yang dapat diambil oleh orang yang belajar filsafat dengan mendalam sehingga mampu memecahkan masalah-masalah secara kritis tentang segala sesuatu.
         Kegunaan secara khusus dimaksudkan manfaat khusus yang bisa diambil untuk memecahkan khususnya suatu objek di Indonesia.Jadi khusus diartikan terikat oleh ruang dan waktu, sedangkan umum dimaksudkan tidak terikat oleh ruang dan waktu.
Menurut sebagian filsuf, yang dikutip dari Rifa’I dan Mu’ids (2010:42) kegunaan secara umum filsafat adalah :
a)        Plato merasakan bahwa berfikir dan memikirkan adalah hal yang nikmat luar biasa sehingga filsafat diberipredikat sebagai keinginan yang maha berharga.
b)        Rene Descartes yang termashur sebagai filsafat modern dan pelopor pembaharuan dalam abad ke 17 terkenal dengan ucapannya cogito ergo sum (karena berfikir maka saya ada). Tokoh ini mempertanyakan segala-galanya, tetapi dalam keadaan serba mempertanyakan itu ada hal yang pasti, bahwa aku bersangsi dan bersangsi berarti berfikir.
Menurut Rifa’I dan Mu’ids (2010:42) manfaat filsafat dalam kehidupan adalah :
1)        Sebagai dasar dalam bertindak
2)        Sebagai dasar dalam mengambil keputusan
3)        Untuk mengurangi salah paham dan konflik
4)        Untuk bersiap siaga menghadapi situasi dunia yang selalu berubah.
7.  Hubungan Filsafat dengan Ilmu Pengetahuan 
Dalam sejarah filsafat Yunani, filsafat mencakup  seluruh  bidang ilmu pengetahuan. Lambat laun banyak ilmu-ilmu khusus yang melepaskan diri dari filsafat. Meskipun demikian, filsafat dan ilmu pengetahuan masih memiliki hubungan dekat. Sebab baik filsafat maupun ilmu pengetahuan sama-sama pengetahuan yang metodis, sistematis, koheren dan mempunyai  obyek material dan formal.
Yang membedakan diantara keduanya adalah: filsafat mempelajari seluruh  realitas, sedangkan ilmu pengetahuan hanya mempelajari satu realitas atau bidang tertentu.
Filsafat adalah induk semua ilmu pengetahuan. Dia memberi sumbangan dan peran sebagai induk yang melahirkan dan membantu mengembangkan ilmu pengetahuan hingga ilmu pengetahuan itu itu dapat hidup dan berkembang.
Filsafat membantu ilmu pengetahuan untuk bersikap rasional dalam mempertanggungjawabkan ilmunya. Pertanggungjawaban secara rasional di sini berarti bahwa setiap langkah langkah harus  terbuka terhadap segala pertanyaan dan sangkalan dan harus dipertahankan secara argumentatif, yaitu dengan argumen-argumen yang obyektif (dapat dimengerti secara intersubjektif) (Anonim, 2006).
 Hubungan antara filsafat dengan ilmu pengetahuan, oleh Louis Kattsoff dikatakan: Bahasa yang pakai dalam filsafat dan ilmu pengetahuan dalam beberapa hal saling melengkapi. Hanya saja bahasa yang dipakai dalam filsafat mencoba untuk berbicara mengenai ilmu pengetahuan, dan bukanya di dalam ilmu pengetahuan.
Namun, apa yang harus dikatakan oleh seorang ilmuwan mungkin penting pula bagi seorang filsuf. Pada bagian lain dikatakan: Filsafat dalam usahanya mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan pokok yang kita ajukan harus memperhatikan hasil-hasil ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan dalam usahanya menemukan rahasia alam kodrat haruslah mengetahui anggapan kefilsafatan mengenai alam kodrat tersebut. 
 Filsafat mempersoalkan istilah-istilah terpokok dari ilmu pengetahuan dengan suatu cara yang berada di luar tujuan dan metode ilmu pengetahuan. Dalam hubungan ini Harold H. Titus menerangkan: Ilmu pengetahuan mengisi filsafat dengan sejumlah besar materi yang faktual dan deskriptif, yang sangat perlu dalam pembinaan suatu filsafat (Anonim, 2012).
           Gerard Beekman dalam bukunya (1973) filsafat, para filsuf, berfilsafat menyatakan bahwa filsafat memainkan peranan dalam hubungannya dengan semua ilmu pengetahuan. Filsafat tidak harus mengirim imformasi dari sisi ilmu pengetahuan,  tapi harus memberikan ilmu pengetahuan.
         Hubungan Antara Filsafat dan Ilmu berbagai pengertian tentang filsafat dan ilmu sebagaimana telah dijelaskan di atas, maka berikutnya akan tergambar pula. Pola hubungan antara ilmu dan filsafat. Pola relasi ini dapat berbentuk persamaan antara ilmu dan filsafat, terdapat juga perbedaan diantara keduanya. Di zaman Plato, bahkan sampai masa al  Kindi, batas antara filsafat dan ilmu pengetahuan boleh disebut tidak ada.
       Seorang filosof pasti menguasi semua ilmu. Tetapi perkembangan pikir manusia yang mengembangkan filsafat pada tingkat praksis, berujung pada loncatan ilmu dibandingkan dengan loncatan filsafat. Meski ilmu lahir dari filsafat, tetapi dalam daya perkembangan berikut, perkembangan ilmu pengetahuan yang didukung dengan kecanggihan teknologi, telah mengalahkan perkembangan filsafat.
             Wilayah kajian filsafat bahkan seolah lebih sempit dibandingkan dengan masa awal perkembangannya, dibandingkan dengan wilayah kajian ilmu. Oleh karena itu, tidak salah jika kemudian muncul suatu anggapan bahwa untuk saat ini, filsafat tidak lagi dibutuhkan bahkan kurang relevan dikembangkan ole manusia. Sebab manusia hari ini mementingkan ilmu yang sifatnya praktis dibandingkan dengan filsafat yang terkadang sulit “dibumikan”.
             Tetapi masalahnya betulkah demikian?Ilmu telah menjadi sekelompok pengetahuan yang terorganisir dan tersusun secara sistematis. Tugas ilmu menjadi lebih luas, yakni bagaimana ia mempelajari gejala-gejala sosial lewat observasi dan eksperimen (Anonim, 2012).
1)   Pengertian Ilmu Pengetahuan
Menurut Mohamad Hatta, mendefinisikan ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum kausal dalam suatu golongan masalah yang sama tabiatnya, maupun menurut kedudukannya tampak dari luar, maupun menurut bangunannya dari dalam.Ralph Ross dan Ernest Van Den Haag, mengatakan ilmu adalah yang empiris, rasional, umum dan sistematik, dan ke empatnya serentak (Wasis, 2002: 45).
Pengetahuan adalah keseluruhan pengetahuan yang belum tersusun, baik mengenai matafisik maupun fisik. Dapat juga dikatakan pengetahuan adalah informasi yang berupa common sense,  tanpa memiliki metode, dan mekanisme tertentu. Pengetahuan berakar pada adat dan tradisi yang menjadi kebiasaan dan pengulangan-pengulangan.
Dalam hal ini landasan pengetahuan kurang kuat cenderung kabur dan samar-samar. Pengetahuan tidak teruji karena kesimpulan ditarik berdasarkan asumsi yang tidak teruji lebih dahulu.  Pencarian pengetahuan lebih cendrung trial and errordan berdasarkan pengalaman belaka (Supriyanto, 2003: 34).
2)   Korelasi Filsafat Ilmu dan Pengetahuan
Filsafat ilmu dengan ilmu pengetahuan tidak bisa dipisahkan. Walaupun sekarang telah  lahir beberapa ilmu pengetahuan seperti ilmu sains dan sosial, namun peran filsafat tidak hilang. Filsafat ilmu merupakan cabang dari ilmu filsafat yang membicarakan obyek khusus, yaitu ilmu pengetahuan yang memiliki sifat dan karakteristik tertentu hampir sama dengan filsafat pada umumnya dan filsafat ilmu sebagai landasan filosofis bagi proses keilmuan, ia merupakan kerangka dasar dari proses keilmuan itu sendiri.
Objek dari filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan. Oleh karena itu setiap saat ilmu itu berubah mengikuti perkembangan zaman dan keadaan tanpa meninggalkan pengetahuan lama. Pengetahuan lama tersebut akan menjadi pijakan untuk mencari pengetahuan baru. Hal ini senada dengan ungkapan dari Archie J.Bahm (1980) bahwa ilmu pengetahuan (sebagai teori) adalah sesuatu yang selalu berubah (Wasis, 2012:36).
Hubungan filsafat dengan ilmu dapat dirumuskan sebagai berikut:
a)   Filsafat obyeknya lebih luas, sifatnya universal sedangkan ilmu pengetahuan obyeknya terbatas, lapangan saja.
b)   Filsafat hendak memberi pengetahuan, pemahaman yang mendalam dengan menunjukan sebab-sebab sedangkan ilmu pengetahuan dengan menunjukan sebab-sebab, tetapi tidak begitu mendalam.
          Menurut Henderson, yang dikutip dalam bukunya Burhanudin, memberikan gambaran hubungan (dalam hal ini perbedaan) antara filafat dan ilmu adalah sebaga berikut:
1)   Ilmu (science)
a)    Anak filsfat
b)   Analitis, memeriksa semua gejala melalui unsur terkecilnya untuk memperoleh gambaran senyatanya menurut bagian-bagiannya
c)    Menekankan fakta-fakta untuk melukiskan obyeknya, netral dan mengabstrakkan faktor keinginan dan penilaian manusia.
d)   Memulai sesuatu engan menggunakan asumsi-asumsi.
e)    Menggunakan metode eksperimen yang terkontrol sebagai cara kerja dan sifat terpenting, memuji sesuatu dengan pengindraan
2)   Filsafat
a)    Induk ilmu
b)   Sinoptis, memandang dunia dan alam semesta sebagai keseluruhan, untuk dapat menerangkannya, menafsirkannya, dan memahaminya secara keeluruhan.
c)    Bukan saja menekankan keadaan sebenarnya dari obyek, melainkan juga bagaimana seharusnya obyek itu. Manusia dan nilai merupakan faktor penting.
d)   Memeriksa dan meragukan segala sumsi-asumsi.
e)        Menggunakan semua penemuan ilmu pengetahuan, menguji sesuatu berdasarkan pengalaman dengan memakai pikiran.
Jadi, dapat diketahui bahwa hubungan antara filsafat dengan ilmu pengetahuan adalah saling melengkapi, dimana filsafat itu menggunakan ilmu pengetahuan untuk menemukan suatu jawaban dengan cara penalaran ataupun penyelidikan disitu ilmu pengetahuan memberikan kontribusi pada filsafat.         
8 .   Perbedaan Filsafat dengan Ilmu Pengetahuan
Perbedaan filsafat dengan ilmu pengetahuan terletak jelas dari pengertian awal. Filsafat diperlukan manusia sebagai panduan dalam menjalani kehidupan, sedangkan ilmu pengetahuan diperlukan untuk menjawab segala bentuk pertanyaan. Filsafat membentuk karakteristik seorang individu atau kelompok dan ilmu pengetahuan bertindak sebagai penunjang (Daudi, 1986:39).
Filsafat menggarap bidang yang luas dan umum, sedangkan ilmu pengetahuan membahas bidang-bidang yang khusus dan terbatas. Tujuannya pun lain, filsafat bertujuan mencari pemahaman dan kebijaksanaan atau kearifan hidup. Sedangkan ilmu pengetahuan bertujuan untuk mengadakan deskripsi, prediksi, eksperimentasi, dan mengadakan kontrol.
Obyek material (lapangan) filsafat itu bersifat universal (umum), yaitu segala sesuatu yang ada (realita) sedangkan obyek material ilmu pengetahuan itu bersifat khusus dan empiris. Artinya ilmu pengetahuan hanya terfokus pada disiplin bidang masing-masing secara kaku dan terkotak-kotak, sedangkan kajian filsafat tidak terkotak-kotak dalam disiplin tertentu.
Obyek formal (sudut pandangan) filsafat itu bersifat non fragmentaris, karena mencari pengertian dari segala sesuatu yang ada itu secara luas, mendalam, dan mendasar. Sedangkan ilmu pengetahuan bersifat fragmentaris, spesifik, dan intensif. Di samping itu, obyek formal ilmu pengetahuan bersifat teknik, yang berarti bahwa cara ide-ide manusia itu mengadakan penyatuan diri dengan realita (Anonim, 2012).
Selain memiliki hubungan, filsafat dan ilmu juga memiliki perbedaan. Perbedaan tersebut dapat di lihat dari berbagai objek, yakni :

a)      Obyek material (lapangan)
Filsafat itu bersifat universal [umum], yaitu segala sesuatu yang ada [realita] sedangkan obyek material ilmu [pengetahuan ilmiah] itu bersifat khusus dan empiris. Artinya, ilmu hanya terfokus pada disiplin bidang masing-masing secra kaku dan terkotak-kotak, sedangkan kajian filsafat tidak terkotak-kotak dalam disiplin tertentu.
b)      Obyek formal (sudut pandangan)
1)   Filsafat itu bersifat non fragmentaris, karena mencari pengertian dari segala sesuatu yang ada itu secara luas, mendalam dan mendasar. Sedangkan ilmu bersifat fragmentaris, spesifik, dan intensif. Di samping itu, obyek formal itu bersifatv teknik, yang berarti bahwa cara ide-ide manusia itu mengadakan penyatuan diri dengan realita.
2)   Filsafat dilaksanakan dalam suasana pengetahuan yang menonjolkan daya spekulasi, kritis, dan pengawasan, sedangkan ilmu haruslah diadakan riset lewat pendekatan trial and error. Oleh karena itu, nilai ilmu terletak pada kegunaan pragmatis, sedangkan kegunaan filsafat timbul dari nilainnya.
3)   Filsafat memuat pertanyaan lebih jauh dan lebih mendalam berdasarkan pada pengalaman realitas sehari-hari, sedangkan ilmu bersifat diskursif, yaitu menguraikan secara logis, yang dimulai dari tidak tahu menjadi tahu.
4)   Filsafat memberikan penjelasan yang terakhri, yang mutlak, dan mendalam sampai mendasar [primary cause] sedangkan ilmu menunjukkan sebab-sebab yang tidak begitu mendalam, yang lebih dekat, yang sekunder [secondary cause]
5)   Filsafat = berpikir kritis atau selalu mempertanyakan segala hal tanpa ada eksperimen. Sedangkan ilmu selalu dengan eksperiman untuk menemukan jawaban dari pertanyaannya (Bakhtiar, 2004).

Ilmu
Filsafat
1.      Segi-segi yang dipelajari dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti

2.      Obyek penelitian yang terbatas
3.      Tidak menilai obyek dari suatu sistem nilai tertentu.
4.      Bertugas memberikan jawaban
1.    Mencoba merumuskan pertanyaan atas jawaban. Mencari prinsip-prinsip umum, tidak membatasi segi pandangannya bahkan cenderung memandang segala sesuatu secara umum dan keseluruhan
2.    Keseluruhan yang ada

3.    Menilai obyek renungan dengan suatu makna, misalkan , religi, kesusilaan, keadilan dsb.
4.    Bertugas mengintegrasikan ilmu-ilmu
Untuk melihat hubungan antara filsafat dan ilmu, ada baiknya kita lihat pada perbandingan antara ilmu dengan filsafat dalam bagan di bawah ini (Agraha, 1992). Jadi, dapat dipahami bahwa perbedaan antara filsafat dengan ilmu pengetahuan adalah filsafat digunakan untuk menjalani kehidupan, sedangkan ilmu pengetahuan untuk menjawab dari pertanyaan dalam kehidupan.






B.        SISTEM FILSAFAT
1.      Ontologi
a.      Pengertian Ontologi
Ontologi terdiri dari dua suku kata, yakni ontos dan logos. Ontos berarti sesuatu yang berwujud (being) dan logos berarti ilmu. Jadi ontologi adalah bidang pokok filsafat yang mempersoalkan hakikat keberadaan segala sesuatu yang ada menurut tata hubungan sistematis berdasarkan hukum sebab akibat yaitu ada manusia, ada alam, dan ada kausa prima dalam suatu hubungan yang menyeluruh, teratur dan tertib dalam keharmonisan (Ismail, 2012:25).
Ontologi yaitu salah satu kajian filsafat yang paling kuno yang berasal dari Yunani. kajian tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Pada masanya, kebanyakan orang belum membedakan antara penampakan dengan kenyataan. Ontologi merupakan cabang filsafat yang mengkaji hakikat ilmu dan objeknya sehingga ilmu ini dapat dakatakan ilmu nyata (Surajiyo, 2012:45).
Ontologi yaitu merupakan azas dalam menerapkan batas atau ruang lingkup wujud yang menjadi obyek penelaahan (obyek ontologis atau obyek formal dari pengetahuan) serta penafsiran tentang hakikat realita (metafisika) dari obyek ontologi atau obyek formal tersebut dan dapat merupakan landasan ilmu yang menanyakan apa yang dikaji oleh pengetahuan dan biasanya berkaitan dengan alam kenyataan dan keberadaan (Sumarna, 2004:34).
Menurut Suriasumantri (1985) Ontologi membahas tentang apa yang ingin kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, atau, dengan kata lain suatu pengkajian mengenai teori tentang “ada”. Telaah ontologis akan menjawab pertanyaan-pertanyaan :
a) apakah obyek ilmu yang akan ditelaah,
b) bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut, dan
c) bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa, dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan.
Menurut (Surajiyo, 2012:55) untuk Aristoteles ada empat dimensi ontologis yang berbeda:
1.      Menurut berbagai kategori atau cara menangani yang sedang seperti itu
2.      Menurut kebenaran atau kesalahan (misalnya emas palsu, uang palsu)
3.      Apakah itu ada dalam dan dari dirinya sendiri atau hanya 'datang bersama' oleh  kecelakaan
4.      Sesuai dengan potensinya, gerakan (energi) atau jadi kehadiran (Buku Metafisika   Theta)
                     Beberapa filsuf, terutama dari sekolah Plato, berpendapat bahwa semua kata benda (termasuk kata benda abstrak) mengacu kepada badan ada. filsuf lain berpendapat bahwa kata benda tidak selalu entitas nama, tetapi beberapa memberikan semacam singkatan untuk referensi untuk koleksi baik benda atau peristiwa.
         Dalam pandangan yang terakhir, pikiran, bukannya merujuk pada suatu entitas, mengacu pada koleksi peristiwa mental yang dialami oleh seseorang; masyarakat yang mengacu pada kumpulan orang-orang dengan beberapa karakteristik bersama, dan geometri mengacu pada koleksi dari jenis yang spesifik intelektual .
         Aktivitas di antara kutub realisme dan nominalisme, ada juga berbagai posisi lain, tetapi ontologi apapun harus memberi penjelasan tentang kata-kata yang mengacu kepada badan usaha, yang tidak, mengapa, dan apa kategori hasil. Ketika seseorang berlaku proses ini untuk kata benda seperti elektron, energi, kontrak, kebahagiaan, ruang, waktu, kebenaran, kausalitas, dan Tuhan, ontologi menjadi dasar untuk banyak cabang filsafat (Anonim, 2011).
Ontologi dapat pula diartikan sebagai ilmu atau teori tentang wujud hakikat yang ada. Obyek ilmu atau keilmuan itu adalah dunia empirik, dunia yang dapat dijangkau pancaindera. Dengan demikian, obyek ilmu adalah pengalaman indrawi. Dengan kata lain,ontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang hakikat sesuatu yang berwujud (yang ada) dengan berdasarkan pada logika semata. Pernyataan-pernyataan di atas dapat kita definisikan bahwa ontologi adalah suatu ilmu yang membahas tentang hal-hal yang bersifat konkret dan abstrak dalam kehidupan sehari-hari. Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis.
b.      Objek Ontologi
Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Bagi pendekatan kuantitatif, realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah, telaahnya akan menjadi kualitatif, realitas dan menjadi aliran-aliran materialisme, idealisme, naturalisme, atau hylomorphisme.Sedangkan menurut Al-Farabi dan Ibnu Zina objek pemikiran menjadi objek sesuatu yang mungkin ada karena yang lain, dan ada karena dirinya sendiri.
Objek pembahasan Ontologi tersebut adalah yang tidak terlihat pada satu perwujudan tertentu, tentang yang ada secara universal, yaitu berusaha mencari inti yang dimuat setiap kenyataan yang meliputi segala realitas dalam semua bentuknya. Adanya segala sesuatu merupakan suatu segi dari kenyataan yang mengatasi semua perbedaan antara benda-benda dan makhluk hidup, antara jenis-jenis dan individu-individu (Tafsir, 2009: 34).
Bidang pembicaraan teori hakikat luas sekali, segala yang ada dan yang mungkin ada, yang boleh juga mencakup pengetahuan dan nilai (yang dicarinya ialah hakikat pengetahuan dan hakikat nilai). Nama lain untuk teori hakikat ialah teori tentang keadaan (Langeveld) (Sumarna. 2004: 35).
Objek formal ontologi adalah hakikat seluruh realitas. Bagi pendekatan kuantitatif, realitas tampil dalam kuantitas atau jumlah, tealaahnya akan menjadi kualitatif, realitas akan tampil menjadi aliran-aliran materialisme, idealisme, naturalisme, atau hylomorphisme. Referensi tentang kesemuanya itu penulis kira cukup banyak.
Hanya dua yang terakhir perlu kiranya penulis lebih jelaskan. Yang natural ontologik akan diuraikan di belakang hylomorphisme di ketengahkan pertama oleh aristoteles dalam bukunya De Anima. Dalam tafsiran-tafsiran para ahli selanjutnya di fahami sebagai upaya mencari alternatif bukan dualisme, tetapi menampilkan aspek materialisme dari mental (Surajiyo,  2012:30).
Dalam tafsiran-tafsiran para ahli selanjutnya di fahami sebagai upaya mencari alternatif bukan dualisme, tetapi menampilkan aspek materialism dari mental.Adapun metode dalam ontologi menurut Lorens Bagus dalam (i) memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi, yaitu :abstraksi fisik, abstraksi bentuk, dan abstraksi metafisik.
Abstraksi fisik menampilkan keseluruhan sifat khas sesuatu objek, sedangkan abstraksi bentuk mendeskripsikan sifat umum yang menjadi ciri semua sesuatu yang sejenis. Abstraksi metaphisik mengetangahkan prinsip umum yang menjadi dasar dari semua realitas. Abstraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi metaphisik.
Sedangkan metode pembuktian dalam ontologi oleh Laurens Bagus di bedakan menjadi dua, yaitu : pembuktian a priori dan pembuktian a posteriori. Pembuktian a priori disusun dengan meletakkan term tengah berada lebih dahulu dari predikat; dan pada kesimpulan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan. Sedangkan pembuktian a posteriori secara ontologi, term tengah ada sesudah realitas kesimpulan; dan term tengah menunjukkan akibat realitas yang dinyatakan dalam kesimpulan hanya saja cara pembuktian a posterioris disusun dengan tata silogistik (Tafsir, 2013: 27).
Jadi, dapat kita simpulkan bahwa objek ontologi adalah sesuatu yang ada hakikatnya. Objek-objek ontologi itu dapat kita pelajari melalui  cabang-cabang hakikat diantaranya kosmologi, antropologi, theologi, filsafat agama, filsafat sejarah, filsafat administrasi, dan lain sebagainya. Objek ontologi itu adalah sebagai acuan untuk kita mudah memahami hal-hal yang bersifat abstrak dan konkret. Oleh karena itu, para ahli membaginya ke dalam beberapa ilmu-ilmu filsafat ontologi.
c.    Aliran Ontologi
Ontologi merupakan kawasan ilmu yang tidak bersifat otonom, ontologi merupakan sarana ilmiah yang menemukan jalan untuk menangani masalah secara ilmiah. Oleh karena itu ontologis dari ilmu pengetahuan adalah tentang obyek materi dari ilmu pengetahuan itu adalah hal-hal atau benda-benda yang empiris. Adapun dalam pemahaman ontologi dapat dikemukakan dengan Pandangan Pokok Pikiran sebagai berikut: (Tafsir, 2013:32).
a.         Monoisme
Paham ini menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh kenyataan itu adalah satu saja, tidak mungkin dua. Haruslah satu hakikat saja sebagai sumber yang asal, baik yang asal berupa meteri atupun berupa rohani.
Tidak mungkin ada hakikat masing-masing bebas dan berdiri sendiri. Haruslah salah satunya merupakan sumber yang pokok dan dominan menentukan perkembangan yang lainnya. Istilah monoisme oleh Thomas Davidson disebut dengan Block Universe. Paham ini kemudian terbagi kedalam dua aliran, yaitu: (Tafsir, 2013:32).
1)        Meterialisme
Aliran ini menggap bahwa sumber yang asal itu adalah materi, bukan rohani, aliran ini sering juga disebut dengan naturalisme. Menurutnya zat mati merupakan kenyataan dan satu-satunya fakta.
2)        Idealisme
Idealisme sebagai lawan materialisme adalah aliran idialisme yang dinamakan dengan spritualisme. Idialisme berarti serba cita, sedang spritulisme berarti ruh. Aliran ini adalah aliran yang tertua. Ada beberapa alasan mengapa aliran ini dapat berkembang: Pada pikiran yang masih sederhana, apa yang kelihatan, yang dapat diraba, biasanya dijadikan kebenaran terakhir.
 Pikiran yang masih sederhana tidak mampu memikirkan sesuatu diluar ruang, yang abstrak. Penemuan-penemuan menunjukan betapa bergantngnya jiwa pada badan. Maka peristiwa jiwa selalu dilihat sebagai peristiwa jasmani. Jasmani lebih menonjol dalam peristiwa itu.
 Dalam sejarahnya manusia memang bergantun pada benda, seperti pada padi. Dewi sri dan tuhan muncul dari situ. Kesemuanya ini memperkuat dugaan bahwa yang merupakan hakikat adalah benda (Tafsir, 2013: 33).
b.        Dualisme
Dualisme, setelah kita memahami bahwa hakikat itu satu (monisme) baik materi ataupun ruhani, ada juga pandangan yang mengatakan bahwa hakikat itu ada dua. Aliran ini disebut dualisme. Aliran ini berpendapat bahwa terdiri dari dua macam hakikat sebgai asal sumbernya, yaitu hakikat materi dan hakikat ruhani. Pendapat ini mula-mula dipakai oleh Thomas Hyde (Tafsir, 2013:33).
1)      Pluralisme
Pluralisme, paham ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Pluralisme bertolak dari keseluruhan dan mengakui semua macam bentuk itu adalah semua nyata. pluralisme dalm Dictionory of Philosophy and Religion dikatakan sebagai paham yang mnyatakan bahwa keyataan alam ini tersusun dari banyak unsur, lebih dari satu atau dua entitas.
Tokoh aliran ini pada masa Yunani Kuno adalah Anaxa goros dan Empedocles yang menyatakan bahwa subtansi yang ada itu berbentuk dan terdiri dari 4 unsur, yaitu tanah, air, api, dan udara (Tafsir, 2013:33).
2)      Nihilisme
Nihilisme, bersal dari bahasa Latin yang berarti nothing atau tidak ada. Sebuah doktrin yang tidak mengakui viliditas alternatif yang positif. Istilah nihilisme diperkenalkan oleh Ivan Tuegeniev dalam novelnya Fathers and Childern yang ditulisnya pada tahun 1862 di Rusia. Dalam novelnya itu Bazarov sebagai tokoh sentral mngatakan lemahnya kutukan ketika ia menerima ide nihilisme.
 Tokoh aliran ini adalah Friedrich Nietzsche (1844-1900 M) dilahirkan di Rocken di Prusia, dari kelurga pendeta dalam pandangannya bahwa “Allah sudah mati” Allah kristiani dengan segalah petrintah dan larangannya sudah tidak mrupakan rintangan lagi (Tafsir, 2013:33).
3)      Agnoticisme
Agnosticisme, paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat benda. baik hakikat materi maupun hakikat ruhani. Kata Agnosticisme berasal dari bahasa Grik Agnostos yang berarti unknown. artinya not artinya know. Timbulnya aliran ini karena belum dapatnya orang mengenal dan mampu menerangkan secara konkret akan adanya kenyataan yang berdidri sendiri dan dapat kita kenal.
Aliran ini menyangkal adanya kenyataan mutlak yang bersifat transcendent. Aliran ini dapat kita temui dalam filsafat eksistensi dengan tokoh-tokohnya seperti, Soren Kierkegaan, Hiedegger, Setre dan Jaspers. yang dikenal sebagai julukan bapak filsafat (Tafsir, 2013:34).
d.        Manfaat Mempelajari Ontologi
Ontologi yang merupakan salah satu kajian filsafat ilmu mempunyai  beberapa manfaat, di antaranya sebagai berikut:
a.       Membantu untuk mengembangkan dan mengkritisi berbagai bangunan sistem pemikiran yang ada.
b.      Membantu memecahkan masalah pola relasi antar berbagai eksisten dan eksistensi.
c.       Bisa mengeksplorasi secara mendalam dan jauh pada berbagai ranah keilmuan maupun masalah, baik itu sains hingga etika.
d.      Dari penjelasan tersebut, penyusun dapat menyimpulkan bahwa ontologi merupakan salah satu diantara lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno. Ontologi berasal dari bahasa Yunani yang berarti teori tentang keberadaan sebagai keberadaan. Pada dasarnya, ontologi membicarakan tentang hakikat dari sutu benda/sesuatu.
Hakikat disini berarti kenyataan yang sebenarnya (bukan kenyataan yang sementara, menipu, dan berubah). Misalnya, pada model pemerintahan demokratis yang pada umumnya menjunjung tinggi pendapat rakyat, ditemui tindakan sewenang-wenang dan tidak menghargai pendapat rakyat. Keadaan yang seperti inilah yang dinamakan keadaan sementara dan bukan hakiki. Justru yang hakiki adalah model pemerintahan yang demokratis tersebut (Sumarna, 2004:40).
Implikasi pandangan ontologi setelah mempelajari Ontologi adalah kita sebagai manusia mengenai pengetahuan alam jagat melalui pengalamannya masing-masing dan dapat memperkaya pengalaman dalam aktifitas kehidupan. Tetapi juga sebagai sesuatu yang tak terbatas realitas fisis, spiritual, yang tetap dan yang berubah–ubah.
Hukum dan sistem kesemestaan yang melahirkan perwujudan harmoni dalam alam semesta, termasuk hukum dan tertib yang menentukan kehidupan manusia. Namun, apabila kita manusia yang tidak memahami apa arti sebuah realita yang ada di alam dan tidak mengetahui hal yang nyata di alam jagat raya ini maka semuanya hanya akan sia-sia karena hanya para filososf yang memahami arti ontologi yang akan mengetahui makna yang hal nyata di alam raya ini (Anonim, 2011).
Jadi, dapat disimpulkan bahwa ontologi meliputi hakikat kebenaran dan kenyataan yang sesuai dengan pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari perspektif filsafat tentang apa dan bagaimana yang “ada” itu. Adapun monoisme, dualisme, pluralisme, nihilisme, dan agnostisisme dengan berbagai nuansanya, merupakan paham ontologi yang pada akhirnya menentukan pendapat dan kenyakinan kita masing-masing tentang apa dan bagaimana yang “ada”.
2.      Epistemologi
a.      Pengertian Epistemologi
       Istilah “Epistemologi” berasal dari bahasa Yunani yaitu “episteme” yang berarti pengetahuan dan ‘logos” berarti perkataan, pikiran, atau ilmu. Kata “episteme” dalam bahasa Yunani berasal dari kata kerja epistamai, artinya menundukkan, menempatkan, atau meletakkan. Maka, secara harafiah episteme berarti pengetahuan sebagai upaya intelektual untuk menempatkan sesuatu dalam kedudukan setepatnya.
Bagi suatu ilmu pertanyaan yang mengenai definisi ilmu itu, jenis pengetahuannya, pembagian ruang lingkupnya, dan kebenaran ilmiahnya, merupakan bahan-bahan pembahasan dari epistemologinya (Jalaluddin.2013.160).
       Epistemologi  juga berasal dari bahasa yunani yaitu episte yang artinya pengetahuan, sedangkan logos adalah teori. Jadi, epistemologi  adalah teori tentang pengetahuan. Objek telaah epistemologi  adalah mempertanyakan bagaimana sesuatu itu datang dan bagaimana mengetahuinya, bagaimana membedakannya dengan yang lain.
Jadi, bisa dibilang, epistemologi  adalah yang merumuskan atau membuktikan kebenaran yang sudah didapat dari kajian ontologi. Sedangkan landasan dari epistemologi  adalah proses apa yang memungkinkan mendapatkan pengetahuan logika, etika, estetika, bagaimana cara dan prosedur memperoleh kebenaran ilmiah, kebaikan moral, dan keindahan seni, serta apa definisinya (Surajiyo, 2012:55-62).
       Menurut dari dua pendapat tersebut diatas tentang definisi Epistemologi yaitu suatu kata yang berasal dari bahasa Yunani yang terbagi atas dua kata yaitu Episteme dan logos yang artinya suatu teori yang berdasar pada suatu pemikiran tentang pengetahuan, yang dapat dirumuskan dan dibuktikan kebenarannya dari kajian ontologi yang berlandaskan pada proses apa yang memungkinkan mendapatkan pengetahuan logika, etika, estetika.
       Beberapa ahli yang mencoba mengungkapkan definisi dari pada epistemologi yaitu Hadi. Menurut beliau epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari dan mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan, pengandaian-pengandaian dan dasarnya, serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki.
Tokoh lain yang mencoba mendefinisikan epistemologi adalah Hamlyin, beliau mengatakan bahwa epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat  dan lingkup pengetahuan, dasar dan pengandaian – pengandaian serta secara umum hal itu dapat  diandalkannya sebagai penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan.
 Runes dalam kamusnya menjelaskan bahwa epistemology is the branch of philosophy which investigates the origin, stukture, methods and validity of knowledge. Itulah sebabnya kita sering menyebutnya dengan istilah epistemologi untuk pertama kalinya muncul dan digunakan oleh J.F Ferrier pada tahun 1854 (Tafsir, 2013: 23).
       Epistemologi membicarakan sumber pengetahuan, terjadinya pengetahuan, asal usul mulai pengetahuan, dan bagaimana cara memperoleh tentang pengetahan. Dalam bahasa inggris disebut epistemolgoy, yaitu cabang filsafat yang membahas tentang asal. Ketika manusia baru lahir, ia tidak mempunyai ilmu pengetahuan sedikit pun. Tatkala ia sudah dewasa, pengetahuannya banyak sekali sementara kawanya yang seumur dengan dia meungkin mempunyai pengetahuan yang lebih banyak dari pada dia dalam bidang yang sama atau berbeda. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat  An-Nahl [16] :78
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ
 وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (٧٨)
”Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (Al-Qur’an Surat  An-Nahl [16] :78).
Dalam Surat Lain Allah berfirman dalam Surat Al-Alaq [96]: 3-5
اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأكْرَمُ (٣) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (٤) عَلَّمَ الإنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (٥)
Artinya :
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya (Q.S Al-Alaq [96]: 3-5).
Bagaimana mereka itu masing-masing mendapatkan pengetahuan itu? Mengapa dapat juga berbeda tingkat akurasinya? Hal-hal semacam itu dibicarakan dalam epistemologi. Jadi, dari pernyataan-pernyataan di atas dapat kita definisikan tentang epistemologi adalah suatu ilmu yang mengkaji tentang pengetahuan yang di dalamnya terdapat teori-teori untuk mempelajari hal tersebut (Anonym.2011).
b.      Sumber Ilmu Pengetahuan: Wahyu, Rasio/akal, Indera, Intuisi
1)      Wahyu
Hubungan antara ilham dan wahyu, Ahmad Zuhri mengutip pendapat al-Ghazali yaitu, bahwa ilham dan wahyu mempunyai sumber yang sama, demikian juga dengan sebagian makna-maknanya. Ilham dan wahyu merupakan ilmu rabbani yang diajarkan kepada manusia, keduanya adalah cara memperoleh ilmu (Surajiyo. 2013: 30).
Mempertegas makna ilham, Muhammad Yasir Nasution dalam bukunya Manusia Menurut Al-Ghazali juga mengutip pendapat sang Hujjatul Islam tersebut. ”Kata ilham mengandung makna mengajari secara rahasia dan langsung.
Karena itu, ia juga menyebut cara memperoleh pengetahuan itu dengan al-ta’allum al-rabbani, dan ilmu yang diperoleh darinya itu disebut al-’ilm al-ladunni. Penggunaan kata ilham, dengan demikian, adalah untuk menggambarkan cara datangnya pengetahuan, tanpa diusahakan dengan perantaraan berpikir (Susanto. 2011:155-156).
Islam meyakini bahwa sumber utama dari segala ilmu dan pengetahuan manusia dalam tak lain adalah wahyu Ilahi. Semua yang terkandung dalam wahyu adalah benar adanya. Penilaian terhadap sesuatu hampir semuanya merujuk kepada wahyu.
Dari sisi lain, wahyu menekankan pentingnya menjaga dan mempotensialkan ketiga sumber ilmu pengetahuan yang telah disebutkan sebelumnya. Ketertinggalan dan kemunduran manusia dalam memeroleh ilmu pengetahuan tak lain disebabkan oleh diri manusia itu sendiri, yang lalai dan malas menggunakan segala potensi yang telah dianugerahkan kepadanya (Anonim. 2011).
Kalangan kaum muslimin terdapat dua tipe pemikiran. Pertama, wahyu sebagai sumber ilmu pengetahuan ilmiyah, dan kedua, wahyu sebagai petunjuk. Jalaluddin al-Suyuthi, Muhammad Shadiq al-Rafi’i, Abd al-Razzaq al-Naufal dan Maurice Bucaille, mereka tergolong kepada kelompok pertama. Sedangkan Ibn Ishak al-Syathibi termasuk kelompok kedua.
Mahdi Ghulsyani memilih berada di antara dua kelompok tersebut. Ia menekankan wahyu itu sebagai petunjuk bagi manusia yang mengandung ilmu pengetahuan dan manusia itu diperintahkan untuk senantiasa menggunakan indera, akal, dan hatinya untuk menggali pengetahuan dari alam ini atas bimbingan wahyu itu sendiri (Ghulsyani. 2001:131).
a.    Rasio/Akal
Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran.
 Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita, dan bukannya di dalam diri barang sesuatu. Jika kebenaran mengandung makna mempunyai ide yang sesuai dengan atau menunjuk kepada kenyataan, maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja ( Susanto. 2011: 157).
b.    Senses/Indera
Indera sebagai salah satu sumber (sebagian orang menyebutnya alat) pengetahuan, indera mempunyai peranan yang amat penting. Begitu pentingnya sehingga oleh aliran filsafat empirisme, indra dipandang sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Indera adalah sumber awal menuju pengenalan terhadap alam sekeliling kita.
Bagi kelompok filosofis rasionalis seperti Baqir al-Sadr, indera merupakan sumber pemahaman untuk gambaran (tasawwur) dan berpikir (al-ifkar) yang sederhana, bahkan di sana terdapat fitrah dalam mental yang membangkitkan tingkat gambaran, (Al-Sadr,1977:59).
Ia mencontohkan betapa kesimpulan teori gravitasi oleh ilmuan alam dikarenakan dengan hasil penemuan hukumnya bukan menginderai hukum tersebut, dan kesimpulan itu bersifat rasio (Surajiyo. 2013: 28).
Ibnu Sina, dengan teorinya yang sangat popular tentang “al-nafs” (jiwa), mengatakan bahwa pengetahuan manusia berasal dari indera luar dan indera dalam (batin). Indera luar memberi suatu pengalaman, kemudian pengalaman itu dirasionalkan oleh indera dalam menjadi pengetahuan.
Mengetahui dari luar maksudnya dengan panca indera, yaitu: indera melihat (al-Bashr), mendengar (al-sama’), mencium (al-samma), merasa dengan lidah (al-zauq), dan merasa dengan sentuhan (al-lam) (Anonym . 2011).
c.    Intuisi
Kalangan sufi mengklaim bahwa intuisi lebih unggul ketimbang akal. Hati dapat memahami pengalaman langsung kadang-kadang tidak seperti yang dikonsepsikan akal. Hati juga bisa mengenal objeknya secara lebih akrab dan langsung. Secara umum, yang paling banyak berkutat dengan masalah hati ini adalah para sufi, tetapi filosofis besar Ibnu Sina pada karyanya al-Isyarat wa al-Tanbihat pada bagian akhir.
  Ibnu Sina mengatakan bahwa ketika akal hanya berkutat pada tataran kesadaran, hati bisa menerobos ke alam ketidaksadaran (semisal alam ghaib) sehingga mampu memahami pengalaman-pengalaman non inderawi atau yang diistilahkan dengan ESP (entra sensory perception), termasuk pengalaman-pengalaman mistik atau religius (Surajiyo. 2013: 29).
Sejarah realitas pengalaman mistik dalam Islam dapat dilihat antara lain dengan munculnya tokoh-tokoh besar di bidang ini, semisal Ibnu Arabi; seorang mistikus terbesar sepanjang sejarah perkembangan tasauf dengan karya-karya masterpiece-nya antara lain Fusus al-Hikam dan al-Futuhat al-Makkiyah tidak lain merupakan hasil pengalaman-pengalaman intuitifnya, atau Ibnu Tufail dengan “Hayy bin Yaqzan”-nya.
Di sisi lain, Muhammad Taqi Ja’far (seorang ahli tasauf yang mempopulerkan istilah tasauf positif) menilai bahwa terdapat hubungan yang erat, sejalan dan tidak terpisahkan antara tasauf dengan sains dan akal. Memisahkan sains dan akal dari tasauf sama seperti menutup dua celah yang dilalui oleh cahaya kebenaran yang menerangi jalan sang musafir.
Sains adalah cahaya penerang bagi fakta-fakta untuk mengetahui cara-cara, alat-alat, hukum alam, serta batas-batas tujuan dan orientasi. Akal adalah pengatur dalam diri kita untuk bisa mempersepsi fenomena sensual, aktifitas mental, abstraksi untuk generalisasi, angka-angka, simbol-simbol pelaksana operasi matematik dan sebagainya. Akal dan sains adalah penghubung antara manusia dan kenyataan (Syekhuddin, 2011).
1)             Sumber Ilmu Pengetahuan Saling Melengkapi
Pengetahuan merupakan khasanah kekayaan mental yang secara langsung atau tidak langsung turut memperkaya kehidupan kita. Sukar untuk dibayangkan bagaimana kehidupan manusia seandainya pengetahuan itu tidak ada, sebab pengetahuan merupakan sumber jawaban bagi berbagai pertanyaan yang muncul dalam kehidupan (Suriasumantri. 1990:104).
Proses terjadinya pengetahuan merupakan bagian penting dalam Epistemologi, sebab hal ini akan mewarnai corak pemikiran kefilsafatanya. Pandangan yang sederhana dalam memikirkan proses terjadinya pengetahuan dapat dipahami berbagai macam. Ada yang berpendapat bahwa pengetahuan diperoleh melalui pngalaman, baik pengalaman indra maupun pengalaman batin, dan yang lain berpendapat bahwa pengetahuan terjadi tanpa ada pengalaman (Anonim. 2011).
Pengetahuan dibagi kedalam tiga jenis, pengetahuan biasa, pengetahuan ilmiah, dan pengetahuan filsafati. Pertama, pengetahuan biasa adalah pengetahuan yang diperoleh dari hasil penyerapan indera terhadap objek tertentu yang disaksikan dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang diperoleh memalui penggunaan metode-metode ilmiah yang lebih menjamin kepastian kebenaran yang dicapai. Ketiga, pengetahuan filsafati adalah diperoleh melalui pikiraan rasional yang didasarkan pada pemmahaman, penafsiran, spekulasi, penilaian kritis, dan pemikiran-pemikiran yang logis, analitis, dan sistematis.
Pengetahuan fitsafati adalah pengetahuan yang berkaitan dengan hakikat, prinsip, dan asas dari seluruh realitas yang dipersoalkan selaku objek yang hendak diketahui (Susanto. 2011:136-138).
Epistemologi menyangkut dua macam yakni epistemology kefilsafatan yang erat hubungannya dengan sikologi dan pertanyaany-pertanyaan semantik yang menyangkut hubungan antara pengetahuan dengan objek pengetahuan tersebut.
 Epistemologi meliputi sumber, sarana, dan tata cara menggunakan sarana tersebut untuk mencapai pengetahuan (ilmiah). Perbedaan mengenai pilihan landasan ontologi akan dengan sendirinya mengakibatkan perbedaan dalam menentukan sarana yang akan kita pilih.
Akal, budi, pengalaman, atau kombinasi antara akal dan pengalaman, intuisi merupakan sarana yang di maksud dengan epistemologis, sehingga dikenal dengan adanya model-model epistemologis seperti rasionalisme, empirisme, kritisisme, atau rasionalisme kritis, posititivisme, fenomenologis dengan berbagai variasinya.
2)   Cara Memperoleh Pengetahuan
            Pengetahuan yang diperoleh oleh menusia melalui akal, indera, dan lain-lain mempunyai metode tersendiri dalam teori pengetahuan, diantaranya adalah sebagai berikut (Susanto. 2011:103-105).
a.         Metode Induktif.
Induksi yaitu suatu metode yang menyampaikan pernyataan-pernyataan hasil observasi dan disimpulkan dalam suatu pernyataan yang lebih umum. Yang bertolak dari pernyataan-pernyataan tunggal sampai pada pernyataan-pernyataan universal.
Dalam induksi, setelah diperoleh pengetahuan, maka akan dipergunakan hal-hal lain, seperti ilmu mengajarkan kita bahwa kalau logam dipanasi ia akan mengembang bertolak dari teori ini akan tahu bahwa logam lain yang kalau dipanasi juga akan mengembang. Dari contoh diatas bisa diketahui bahwa induksi tersebut memberikan suatu pengetahuan yang disebut sintetik (Suriasumantri. 1990:105).
b.         Metode Deduktif
Deduksi ialah suatu metode yang menyimpulkan bahwa data-data empiris diolah lebih lanjut dalam suatu system pernyataan yang runtut. Hal-hal yang harus ada dalam metode deduktif ialah adanya perbandingan logis antara kesimpulan-kesimpulan itu sendiri.
Ada penyelidikian bentuk logis teori itu dengan tujuan apakah teori tersebut mempunyai  sifat empiris atau ilmiah, ada perbandingan dengan teori-teori lain dan ada pengujian teori dengan jalan menerapkan secara empiris kesimpulan-kesimpulan yang bisa ditarik dari teori tersebut (Susanto. 2011:106).

c.         Metode Positivisme
Dimetode ini berpangkal dari apa yang telah diketahui, yang factual, yang positif. Ia mengesampingkan segala uraian diluar yang ada sebagai fakta, oleh karena itu ia menolak metafisika. Apa yang diketahui secra positif, adalah segala yang tampak dan segala gejala.
Dengan demikian metode ini dalam bidang filsafat dan ilmu pengetahuan dibatasi kepada bidang gejala-gejala saja (Suriasumantri. 1990:105).
d.         Metode Kontemflatif
Metode ini mengatakan adanya keterbatasan indra dan akal manusia untuk memperoleh pengetahuan, sehingga objek yang dihasilkanpun akan berbeda-beda, harusnya dikembangkan satu kemampuan akal yang disebut dengan intuisi. Pengetahuan yang diperoleh lewat intusi ini bisa diperoleh dengan cara berkontemplasi seperti yang dilakukan oleh al-ghazali (Syekhuddin, 2011).
e.         Metode Diaklektis
Filsafat, dialektika mula-mula berarti metode tanya jawab untuk mencapai kejernihan filsafat. Metode ini diajarkan oleh Socrates. Namun plato mengartikannya diskusi logika. Kini dialekta berarti tahap logika, yang mengajarkan kaidah-kaidah dan metode-metode penuturan, juga analisis sistematik tentang ide-ide.
Sehingga untuk mencapai apa yang terkandung dalam dan metode peraturan, juga analisis sistematika tentang ide mencapai apa yang terkandung dalam pandangannya  (Anonym. 2011).
3)   Manfaat Mempelajari Epistemologi
Epistemologi bermaksud mengkaji pengandaian-pengandaian dan syarat-syarat logis yang mendasari dimungkinkannya pengetahuan itu. Epistemologi juga mencoba memberi pertanggungjawaban rasional terhadap klaim kebenaran dan obyektivitasnya.
Dari maksud itu, maka Epistemologi dapat dinyatakan suatu disiplin ilmu yang bersifat evaluatif, normative, dan kritis. Evaluatif berarti bersifat menilai. Epsitemologi menilai apakah keyakinan, sikap, pernyataan pendapat, teori pengatahuan dapat dibenarkan, diajamin kebenarannya, atau memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan secara nalar (Anonym, 2011).
Pertimbangan Strategis: Pengetahuan adalah kekuasaan “Knoledge is power”. Pengetahuan mempunyai daya kekuatan untuk mengubah keadaan. “Apabila pengetahuan adalah suatu kekuatan yang telah dan akan terus membentuk kebudayaan, menggerakan dan mengubah dunia, sudah semestinyalah apabila kita berusaha memahami apa itu pengethauan, apa sifat dan hakikatnya , apa daya dan ketebatasnnya, apa kemungkinan permasalahannya.
Pertimbangan Kebudayaan: Mempelajari epistemology diperlukan pertama-tama untuk mengungkap pandangan epistemologis yang sesungguhnya ada dan terkandung dalam setiap kebudayaan. Setiap kebudayaan, entah secara implicit ataupun ekplisit, entah hanya lisan atau tulisan , entah secara sistematis ataupun tidak, selalu memuat pandangan tentang pengetahuan (Syekhuddin, 2011).
Pertimbangan pendidikan: berdasarkan pertimbangan pendidikan epistemology perlu dipelajarai karena manfaatnya untuk bidang pendidikan. Pendidikan sebagai usaha sadar untuk membantu peserta didik mengembangkan pandangan hidup, sikap hidup dan ketrampilan hidup, tidak dapat lepas dari penguasaan pengetahuan. Proses Belajar Mengajar dalam konteks pendidikan selalau memuat unsure penyampaian pengetahuan, ketrampilan, dan nilai-nilai (Anonym, 2011).
Jadi, manfaat epistemologi adalah sebagai petunjuk atau ilmu yang akan kita pelajari untuk menyelesaikan masalah berdasarkan pertimbangan pendidikan epistemology perlu dipelajarai karena manfaatnya untuk bidang pendidikan. Pendidikan sebagai usaha sadar untuk membantu peserta didik mengembangkan pandangan hidup, sikap hidup dan keterampilan hidup, tidak dapat lepas dari penguasaan pengetahuan. Proses Belajar Mengajar dalam konteks pendidikan selalu memuat unsur penyampaian pengetahuan, ketrampilan, dan nilai-nilai.
A.       Aksiologi
1.        Pengertian Aksiologi
Istilah aksiologi berasal dari kata axios (Yunani) yang berarti nilai, dan logos yang berarti ilmu atau teori. Jadi, aksiologi adalah ‘teori tentang nilai’. Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimilki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang diniliai teori tentang nilai yang dalam filsafat mengacu kepada etika dan estetika.
Aksiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakikat nilai, yang umumnya ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan. Aksiologi juga menunjukkan kaidah-kaidah yang harus diperhatikan dalam menerapkan ilmu ked lam praktis. Aksiologi memuat pemikiran tentang masalah nilai – nilai termasuk nilai-nilai tinggi dari Tuhan.
Aksiologi juga mengandung pengertian lebih luas daripada etika atau higher values of life (nilai – nilai kehidupan yang bertaraf tinggi). Filsafat ilmu menyelidiki dampak pengetahuan ilmiah pada hal-hal persepsi manusia akan kenyataan, pemahaman berbagai dinamika alam, saling keterkaitan antara logika dan matematika, berbagai keadaan dari keberadaan–keberadaan teoritis,berbagaisumber pengetahuan dan pertanggungjawabannya, hakikat manusia, nilai-nilainya yang berada di lingkungan dekatnya, ( Susanto, 2010: 117).
Menurut Semiawan dalam Wattimena (2005: 158) menjelaskan tentang etika sebagai kajian tentang hakikat moral dan keputusan (kegiatan menilai). Selanjutnya Semiawan menerangkan bahwa etika sebagai prinsip atau standar perilaku manusia, yang kadang-kadang disebut dengan moral.
Kegiatan menilai dibangun berdasarkan toleransi atau ketidakpastian. Bahwa tidak ada kejadian yang dapat dijelaskan secara pasti dengan zero tolerance. Hal ini berlaku dalam semua ilmu, termasuk ilmu eksakta. Perubahan ilmu dilandasi oleh prinsip toleransi.
Dalam aksiologi, ada dua penilain yang umum digunakan, yaitu etika dan estetika. Etika adalah cabang filsafat yang membahas secara kritis dan sistematis masalah-masalah moral. Kajian etika lebih fokus pada prilaku, norma dan adat istiadat manusia. Etika merupakan salah-satu cabang filsafat tertua. Setidaknya ia telah menjadi pembahasan menarik sejak masa Sokrates dan para kaum shopis.
 Di situ dipersoalkan mengenai masalah kebaikan, keutamaan, keadilan dan sebagianya. Etika sendiri dalam buku Etika Dasar yang ditulis oleh Franz Magnis Suseno diartikan sebagai pemikiran kritis, sistematis dan mendasar tentang ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan moral. Isi dari pandangan-pandangan moral ini sebagaimana telah dijelaskan di atas adalah norma-norma, adat, wejangan dan adat istiadat manusia.
Berbeda dengan norma itu sendiri, etika tidak menghasilkan suatu kebaikan atau perintah dan larangan, melainkan sebuah pemikiran yang kritis dan mendasar. Tujuan dari etika adalah agar manusia mengetahi dan mampu mempertanggung jawabkan apa yang ia lakukan.
Didalam etika, nilai kebaikan dari tingkah laku manusia menjadi sentral persoalan. Maksudnya adalah tingkah laku yang penuh dengan tanggung jawab, baik tanggung jawab terhadap diri sendiri, masyarakat, alam maupun terhadap tuhan sebagai sang pencipta.Dalam perkembangan sejarah etika ada empat teori etika sebagai sistem filsafat moral yaitu, hedonisme, eudemonisme, utiliterisme dan deontologi.
Hedoisme adalah padangan moral yang menyamakan baik menurut pandangan moral dengan kesenangan. Eudemonisme menegaskan setiap kegiatan manusia mengejar tujuan. Dan adapun tujuan dari manusia itu sendiri adalah kebahagiaan.Selanjutnya utilitarisme, yang berpendapat bahwa tujuan hukum adalah memajukan kepentingan para warga negara dan bukan memaksakan perintah-perintah ilahi atau melindungi apa yang disebut hak-hak kodrati.
 Selanjutnya deontologi,adalah pemikiran tentang moral yang diciptakan oleh Immanuel Kant. Menurut Kant, yang bisa disebut baik dalam arti sesungguhnya hanyalah kehendak baik. Semua hal lain disebut baik secara terbatas atau dengan syarat. Misalnya kekayaan manusia apabila digunakan dengan baik oleh kehendak manusia.
Pokok persoalan dalam etika keilmuwan selalu mengacu pada elemen -elemen kaidah moral, yaitu hati nurani, kebebasan dan tanggung jawab, nilai dan norma yang bersifat utilitaristik (kegunaan). Hati nurani merupakan penghayatan tentang yang baik dan yang buruk yang dihubungkan dengan perilaku manusia.
Nilai dan norma yang harus berada pada etika keilmuwan adalah nilai dan norma moral, dan penerapan ilmu pengetahuan yang telah dihasilkan harus memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan, social, dan agama (Bakhtiar, 2011: 171).
Tanggung jawab seorang ilmuwan di bidang etika bukan lagi memberi informasi namun harus memberi contoh. Pengetahuan yang dimilikinya merupakan kekuatan yang akan memberinya keberanian. Sehingga lmu harus terbuka pada konteksnya, dan agamalah yang menjadi konteksnya tersebut.
Sementara itu, cabang lain dari aksiologi, yakni estetika. Estetika merupakan bidang studi manusia yang mempersoalkan tentang nilai keindahan. Keindahan mengandung arti bahwa didalam diri segala sesuatu terdapat unsur-unsur yang tertata secara tertib dan harmonis dalam satu kesatuan hubungan yang utuh menyeluruh.
Maksudnya adalah suatu objek yang indah bukan semata-mata bersifat selaras serta berpola baik melainkan harus juga mempunyai kepribadian. Sebenarnya keindahan bukanlah merupakan suatu kualitas objek, melainkan sesuatu yang senantiasa bersangkutan dengan perasaan. Misalnya kita bengun pagi, matahari memancarkan sinarnya kita merasa sehat dan secara umum kita merasaakan kenikmatan.
Meskipun sesungguhnya pagi itu sendiri tidak indah tetapi kita mengalaminya dengan perasaan nikmat. Dalam hal ini orang cenderung mengalihkan perasaan tadi menjadi sifat objek itu, artinya memandang keindahan sebagai sifat objek yang kita serap. Padahal sebenarnya  tetap merupakan perasaan.
Semiawan (2005: 158) menjelaskan tentang etika sebagai kajian tentang hakikat moral dan keputusan (kegiatan menilai). Selanjutnya Semiawan menerangkan bahwa etika sebagai prinsip atau standar perilaku manusia, yang kadang-kadang disebut dengan moral.
Kegiatan menilai dibangun berdasarkan toleransi atau ketidakpastian. Bahwa tidak ada kejadian yang dapat dijelaskan secara pasti dengan zero tolerance. Hal ini berlaku dalam semua ilmu, termasuk ilmu eksakta. Perubahan ilmu dilandasi oleh prinsip toleransi.
Lebih lanjut Susanto menjelaskan bahwa salah satu tuntutan yang harus dipenuhi oleh ilmu adalah bahwa ilmu harus berlaku secara umum, lintas ruang dan waktu. Namun, ternyata sifat-sifat universal mempunyai keterbatasan. Keterbatasan sifat ini lebih nyata pada beberapa bidang ilmu tertentu. Keterbatasan sifat universal berkaitan erat dengan karakter universalnya.
Ada perbedaan karakter ilmu-ilmu social dengan ilmu-ilmu eksakta. Fenomena dalam ilmu sejarah sangat bergantung dengan ruang dan waktu, sedangkan fenomena mekanika terbebas dari ruang dan waktu. Pengetahuan ilmiah itu bukan saja dimengerti artinya, tetapi juga maknanya. Jadi memberikan pengetahuan baru kepada orang lain dengan tingkat kepercayaan cukup besar.
Aksiologi adalah ilmu yang membicarakan tentang tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri. Jadi Aksiologi merupakan ilmu yang mempelajari hakikat dan manfaat yang sebenarnya dari pengetahuan, dan sebenarnya ilmu pengetahuan itu tidak ada yang sia-sia kalau kita bisa memanfaatkannya dan tentunya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan di jalan yang baik pula.
Karena akhir-akhir ini banyak sekali yang mempunyai ilmu pengetahuan yang lebih itu dimanfaatkan di jalan yang tidak benar (Bakhtiar, 2011: 185).
Pembahasan aksiologi menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Ilmu tidak bebas nilai. Artinya pada tahap-tahap tertentu kadang ilmu harus disesuaikan dengan nilai-nilai budaya dan moral suatu masyarakat; sehingga nilai kegunaan ilmu tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat dalam usahanya meningkatkan kesejahteraan bersama, bukan sebaliknya malahan menimbulkan bencana
Nilai itu bersifat objektif, tapi kadang-kadang bersifat subjektif. Dikatakan objektif jika nilai-nilai tidak tergantung pada subjek atau kesadaran yang menilai. Tolak ukur suatu gagasan berada pada objeknya, bukan pada subjek yang melakukan penilaian. Kebenaran tidak tergantung pada kebenaran pada pendapat individu melainkan pada objektivitas fakta.
Sebaliknya, nilai menjadi subjektif, apabila subjek berperan dalam memberi penilaian; kesadaran manusia menjadi tolak ukur penilaian. Dengan demikian nilai subjektif selalu memperhatikan berbagai pandangan yang dimiliki akal budi manusia, seperti perasaan yang akan mengasah kepada suka atau tidak suka, senang atau tidak senang.
Sudah menjadi ketentuan umum dan diterima oleh berbagai kalangan bahwa ilmu harus bersifat objektif. Salah satu faktor yang membedakan antara peryataan ilmiah dengan anggapan umum ialah terletak pada objektifitasnya. Seorang ilmuan harus melihat realitas empiris dengan mengesampingkan kesadaran yang bersifat idiologis, agama dan budaya.
 Seorang ilmuan haruslah bebas dalam menentukan topik penelitiannya, bebas melakukan eksperimen-eksperimen. Ketika seorang ilmuan bekerja dia hanya tertuju kepada proses kerja ilmiah dan tujuannya agar penelitiannya berhasil dengan baik. Nilai objektif hanya menjadi tujuan utamanya, dia tidak mau terikat pada nilai subjektif ( Susanto, 2010: 121).
2.        Kegunaan Aksiologi bagi Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Berkenaan dengan nilai guna ilmu, baik itu ilmu umum maupun ilmu agama, tak dapat dibantah lagi bahwa kedua ilmu itu sangat bermanfaat bagi seluruh umat manusia, dengan ilmu sesorang dapat mengubah wajah dunia.
Berkaitan dengan hal ini, menurut Francis Bacon seperti yang dikutip oleh Suriasumatri (2000), yaitu bahwa “pengetahuan adalah kekuasaan” apakah kekuasaan itu merupakan berkat atau justru malapetaka bagi umat manusia. Memang kalaupun terjadi malapetaka yang disebabkan oleh ilmu, bahwa kita tidak bisa mengatakan bahwa itu merupakan kesalahan ilmu, karena ilmu itu sendiri merupakan alat bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan hidupnya, lagi pula ilmu memiliki sifat netral, ilmu tidak mengenal baik ataupun buruk melainkan tergantung pada pemilik dalam menggunakannya.
Nilai kegunaan ilmu menurut Semiawan (2005: 167) untuk mengetahui kegunaan filsafat ilmu atau untuk apa filsafat ilmu itu digunakan, kita dapat memulainya dengan melihat filsafat sebagai tiga hal, yaitu:
1)        Filsafat sebagai kumpulan teori digunakan memahami dan mereaksi dunia pemikiran. Jika seseorang hendak ikut membentuk dunia atau ikut mendukung suatu ide yang membentuk suatu dunia, atau hendak menentang suatu sistem kebudayaan atau sistem ekonomi, atau sistem politik, maka sebaiknya mempelajari teori-teori filsafatnya. Inilah kegunaan mempelajari teori-teori filsafat ilmu.
2)        Filsafat sebagai pandangan hidup. Filsafat dalam posisi yang kedua ini semua teori ajarannya diterima kebenaranya dan dilaksanakan dalam kehidupan. Filsafat ilmu sebagai pandangan hidup gunanya ialah untuk petunjuk dalam menjalani kehidupan.
3)        Filsafat sebagai metodologi dalam memecahkan masalah. Dalam hidup ini kita menghadapi banyak masalah. Bila ada batui didepan pintu, setiap keluar dari pintu itu kaki kita tersandung, maka batu itu masalah. Kehidupan akan dijalani lebih enak bila masalah masalah itu dapat diselesaikan.
Ada banyak cara menyelesaikan masalah, mulai dari cara yang sederhana sampai yang paling rumit. Bila cara yang digunakan amat sederhana maka biasanya masalah tidak terselesaikan secara tuntas.penyelesaian yang detail itu biasanya dapat mengungkap semua masalah yang berkembang dalam kehidupan manusia.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar